Translate
Sunday, May 22, 2011
IMG03639.jpg
I asked for wireless and I have to pay 30000/ an hour. Why u can't give it for free? I paid already expensive for the hotel.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Exhausted
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Hotels in Bali
Jalan Pratama 68A Tanjung Benoa,
Nusa Dua 80363, Bali - Indonesia
Tel: +62 361 770126, Fax: +62 361 778426
E-mail: dos@theoasisbenoa.com
Official website of Langon Bali Resort & Spa
Jl. Darmawangsa, Kampial, Nusa Dua, Bali - Indonesia
e: sales@langonbaliresort.com , p: +62-361-7453416 ,
All rates are subject to 21% tax and service charge
Rates include:
o American breakfast for 2 (two persons)
o Free airport transfer
o Free shuttle to Nusa Dua area
o Welcome drink upon arrival
Surcharges:
July: US$ 5++/room/night
August: US$ 15++/room/night
September: US$ 5++/room/night
21 Dec - 5 Jan: US$ 30++/room/night
Transportation
airport pick-up and transfer
shuttle to Nusa Dua Beach and shopping areas
transfer service to Jimbaran Bay and Kuta Beah (
Complimentary
refreshing cold towel and welcome drink
bottled water in the room
tropical fresh fruit selection upon arrival
daily Turn down service
Matahari Terbit Bali
Deluxe Bungalows, Restaurant and SPA
Jl. Pratama - Tanjung Benoa
Nusa Dua 80363 Bali - Indonesia
Phone 62 361 771019 - Fax 62 361 772027
E-mail sales@matahariterbitbali.com
INTERNET RATES
DELUXE ROOMS : US$85.00/night max 2 persons.
Surcharge : July - August US$10/night, December 20 - January 6,2011 US$20/night
BENEFIT :
welcome Drink &Cold towel, in room fruit basket & flower upon arrival.
Fresh mineral water 2 bottles daily and breakfast.
CONDITIONS:
Valid immediately until 10 January 2012
20 spacious Deluxe Balinese Style Bungalows with thatched roof,
spacious private balcony elegantly appointed with Balinese decor. 1
Villa consists of 3 bed rooms with open air living and dinning room
suitable for family of six persons. Each room is 50 M² with Tropical
Garden and Ocean View, all rooms include a secluded outdoor balcony.
Well equipped bathroom with hot and cold shower, indoor and outdoor
seating area, Air Conditioning, Television, Telephone and mini bar
Friday, May 20, 2011
Snaptu: The IMF after DSK | Mark Weisbrot
With Dominique Strauss-Kahn's resignation, it's time to take stock of his legacy – and the limits of his reform of the fund
Now that Dominique Strauss-Kahn has resigned from his position as managing director of the International Monetary Fund (IMF),…
Click here to read the full story
--This email was sent to you from Snaptu mobile application.
Snaptu: The new foreign policy moralists aren't as far from Bush as they think | Mark Mazower
Why Libya and not Tibet? The 'responsibility to protect' doctrine is being undermined as practice devalues its principles
As British involvement in Libya keeps expanding, it is worth looking more closely at the ideas that brought us there in the…
Click here to read the full story
--This email was sent to you from Snaptu mobile application.
Snaptu: The IMF after DSK | Mark Weisbrot
With Dominique Strauss-Kahn's resignation, it's time to take stock of his legacy – and the limits of his reform of the fund
Now that Dominique Strauss-Kahn has resigned from his position as managing director of the International Monetary Fund (IMF),…
Click here to read the full story
--This email was sent to you from Snaptu mobile application.
Thursday, May 19, 2011
people who were too happy were more likely to suffer from mental disorders such as bipolar
Reasons NOT to be cheerful: Happy people die younger than their more reserved peers, study finds
The 16th Ministerial Conference and Commemorative Meeting of the Non-Aligned Movement
NAM Conference will be held in Bali next week...and I found this old article of mine discussing some issues about NAM which was established according to Bandung Spirit in 1955....well, I will upadate later..this is just to refresh a bit about the NAM.. (Icha)
PERUBAHAN adalah suatu yang sulit untuk dilakukan. Agar proses perubahan itu berhasil, tentu saja butuh kesungguhan untuk menjalani perubahan dibarengi dengan kerja keras. Tanpa itu, perubahan tidak akan berhasil. Niat saja tidak cukup. Ini pula yang harus disadari oleh negara-negara Asia-Afrika yang populasinya, 70 persen dari sekira 6,5 miliar penduduk dunia saat ini. Namun, populasi yang besar ini ternyata tidak menjadikan Asia-Afrika punya kekuatan mayoritas di dunia ini.
Indikasi ini bisa dilihat dari warna hubungan internasional yang ada selama ini, khususnya pasca-Perang Dunia II, aktor-aktor negara yang punya pengaruh kuat umumnya berasal dari negara-negara Amerika dan Eropa. Dari soal kebijakan politik, ekonomi internasional, mereka ini sangat dominan. Akibatnya, dunia yang berpenghuni lebih dari 200 negara ini, hanya didikte oleh kebijakan yang dibuat sejumlah negara di kawasan Eropa dan Amerika. Berdirinya sejumlah organisasi intrenasional seperti Bank Dunia, IMF (Intrenational Monetary Fund) dan WTO (World Trade Organization) adalah buah pemikiran negara-negara seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, dan negara-negara Barat lainnya. Bisa disebut, mereka ini merupakan aktor penting yang memberi warna perekonomian dan politik internasional yang ada saat ini.
Gencarnya ekspor demokrasi ke seluruh penjuru dunia juga adalah ide dari negara-negara tersebut. Berkembang pesatnya sistem kapitalis dalam perekonomian dunia saat ini juga adalah buah karya mereka. Lalu kemana suara negara-negara Asia-Afrika? Jumlah populasi yang besar ternyata tidak membuat Asia-Afrika menjadi kekuatan yang bisa diandalkan dalam perumusan sejumlah kebijakan ekonomi dan politik internasional. Padahal, mayoritas negara-negara yang tinggal di benua Asia dan Afrika, pernah mengalami pengalaman buruk akibat kolonialisme yang dampaknya sampai kini masih membekas di negara-negara tersebut. Budaya feodalisme, paternalistik, yang masih kentara dalam birokrasi pemerintahan di sejumlah negara-negara Asia-Afrika, termasuk di Indonesia, adalah sebagian kecil efek negatif kolonialisme di masa lampau.
Kini, era kolonialisme memang sudah berakhir. Seluruh negara Asia-Afrika sudah merdeka, kecuali Palestina, yang nasibnya pun ada di tangan aktor-aktor kuat negara-negara yang mengklaim diri sebagai pencinta demokrasi.
Namun demikian, jangan salah, meski tidak ada lagi penjajahan fisik seperti saat Belanda dan Jepang memperbudak bangsa kita, menghisap kekayaan negara kita, kolonialisme itu tetaplah ada, tetapi dalam bentuk lain. Aroma penjajahan baru atau neokolonialisme itu sangat bisa kita rasakan. Kehadiran sejumlah rezim ekonomi internasional, misalnya WTO dan IMF, yang niatannya ingin mensejahterakan penduduk dunia, tetapi pada faktanya, hanya menjerumuskan banyak negara-negara di Asia-Afrika ke lubang kemiskinan dan kebangkrutan. Memang, ada juga negara Asia yang punya taji dalam kancah perekonomian global, seperti Jepang, misalnya. Tetapi, sayangnya negara ini justru pendukung sejumlah rezim perekonomian kapitalis bentukan negara-negara Barat. Ini terjadi karena dengan sistem ekonomi global yang ada saat ini, Jepang ada dalam zona nyaman di mana pundi-pundi uang negara ini begitu mudah terisi akibat hasil industri mereka laku di pasaran dunia.
Kembali ke persoalan keterpurukan ekonomi di kawasan Asia-Afrika, yang telah membuat kemiskinan jadi isu utama di kawasan tersebut. Banyak negara yang terperangkap dalam jebakan utang yang akhirnya membuat negara-negara tersebut sulit melakukan proses pembangunan. Soalnya sebagian besar penghasilan negara dipakai untuk bayar cicilan utang. Konsekuensinya, kebutuhan dasar rakyat, seperti pendidikan dan kesehatan terabaikan.
Harus diakui, keberadaan rezim-rezim buatan Barat tersebut berimplikasi terhadap keterpurukan sejumlah negara di kawasan Asia-Afrika. Bagaimanapun, rezim tersebut dibuat berdasarkan agenda-agenda politik dari negara-negara kapitalis seperti AS dan Inggris dengan tujuan untuk melindungi kepentingan ekonomi dan politik negara-negara tersebut. Dengan kata lain, mereka membuat rezim-rezim seperti IMF dan WTO, untuk memproteksi perekonomian mereka.
Juga tidak dapat disangkal, meluasnya praktik korupsi dan praktik pemerintahan otoriter, juga berkontribusi terhadap berkembangnya kemiskinan di kawasan Asia-Afrika.
Contoh lain, krisis moneter yang terjadi di Asia menunjukkan betapa kebijakan IMF dan WTO telah berkontribusi menghantarkan Indonesia dan negara lainnya menjadi negara miskin. Sejumlah kebijakan penentuan tarif dan kuota perdagangan yang ada selama ini, justru lebih banyak merugikan negara-negara Asia-Afrika. Parahnya, suara negara-negara Asia-Afrika yang jadi anggota rezim tersebut melempem.
Keikutsertaan sejumlah negara-negara Asia dan Afrika dalam sejumlah rezim perekonomian internasional lebih banyak sebagai pendengar dan tidak banyak melakukan aksi nyata yang memperjuangkan kepentingan mereka. Baru dua tahun terakhir ini, anggota-anggota WTO yang berasal dari kawasan Asia-Afrika mulai unjuk gigi, misalnya dalam pertemuan anggota WTO di Meksiko dua tahun lalu dan juga pertemuan WTO 2004, bangsa-bangsa Asia-Afrika mulai berani memprotes ketidakadilan sistem perdagangan yang dirumuskan oleh negara-negara maju seperti AS, Inggris, Jerman, dan Prancis.
Tetapi, hasilnya pun tidak maksimal, yang diperjuangkan bangsa-bangsa Asia-Afrika pun baru sebatas pada komoditi pertanian yang memang masih jadi andalan perkonomian mereka. Padahal, di era industri saat ini, komoditi pasar tidak melulu yang bersifat agraris. Banyak industri lainnya, seperti industri tekstil, yang sebenarnya banyak dilakukan di kawasan Asia-Afrika. Tetapi, malangnya tidak memberikan benefit bagi kehidupan perekonomian negara-negara Asia-Afrika.
Kemiskinan ini semakin diperparah dengan meluasnya tindak korupsi dan lemahnya aturan hukum di negara-negara tersebut. Akhirnya terjadilah kesenjangan ekonomi yang lebar antara negara-negara di Asia-Afrika dan negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika. Tidak dapat disangkal, masalah ekonomi memang jadi persoalan krusial di sejumlah negara di kawasan Asia-Afrika. Lemahnya posisi Asia-Afrika dalam pembuatan sejumlah keputusan yang sifatnya global, juga diakibatkan keterpurukan ekonomi sejumlah negara-negara Asia-Afrika. Jadinya, posisi tawar menawar bangsa-bangsa di kawasan tersebut lemah. Sudah seharusnya, negara-negara Asia-Afrika menyadari realitas ekonomi dan politik dunia yang ada saat ini di mana ternyata pengatur dunia saat ini hanya ada di tangan segelintir aktor negara, di antaranya yang paling berpengarauh adalah AS.
Oleh karena itu, untuk membangkitkan kekuatan Asia-Afrika, perlu ada perubahan parameter relasi Asia-Afrika. Jika selama ini, kekuatan Asia-Afrika itu terpecah belah dalam sejumlah kerja sama subregional maka kini sudah saatnya, Asia-Afrika punya forum integral untuk menyatukan kekuatan mereka. Sudah saatnya, negara-negara di kawasan Asia-Afrika yang selama ini lebih sering jadi objek, kini saatnya bangkit untuk jadi subjek yang bisa membuat sejumlah rumusan kebijakan global baik itu di bidang politik atau ekonomi yang menguntungkan Asia-Afrika.
Perlu ada kesungguhan dan kerja keras di antara negara-negara Asia-Afrika untuk membangun kemitraan strategis baru agar melalui kemitraan tersebut, negara-negara Asia-Afrika bisa bangkit menjadi suatu kekuatan dunia yang tidak bisa diremehkan begitu saja oleh segelintir aktor yang mengklaim diri mereka sebagai negara-negara maju. Sebenarnya, ide membangun kekuatan Asia itu sudah pernah terwacanakan pada 50 tahun lalu, tepatnya pada Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berlangsung di Bandung pada 18-24 April 1995, yang menghasilkan Dasasila Bandung.
Penyelenggaraan KAA pada 50 tahun lalu itu pun sungguh patut kita apresiasi secara luar biasa. Ternyata, sudah sejak lama bangsa-bangsa Asia-Afrika sadar bahwa mereka harus punya kekuatan sendiri agar tidak terperangkap oleh kekuatan dunia tertentu. Saat itu, kekuatan politik global memang bersifat bipolar (AS versus Uni Soviet). Namun sayangnya, ide-ide dari Semangat Bandung itu belum terwujudkan. Pasca-KAA pertama, belum ada lagi forum yang bisa mengintegrasikan kekuatan Asia-Afrika.
Bagaimana dengan Gerakan Non Blok (GNB)? Lahirnya gerakan ini pun didasari hasil KAA pada 50 tahun lalu. Sayangnya, gerakan ini pun sekarang melempem. Padahal keberadaan Dasasila Bandung tetap relevan dengan konteks politik global yang ada saat ini, sebagaimana penulis paparkan di bagian awal tulisan ini. Bangsa-bangsa Asia-Afrika tidak boleh lagi tersubordinasi oleh kekuatan politik atau ekonomi negara tertentu. Bangsa Asia-Afrika harus saling bekerja sama untuk membangun kemitraan strategis. Mantan Menlu RI Moctar Kusumaatmadja kepada penulis mengatakan bahwa bukan hal yang tidak mungkin, suatu hari nanti, melalui kerja sama yang baik, Asia-Afrika bisa bangkit menjadi kekuatan dunia, sejajar dengan Uni Eropa atau bahkan lebih.
Karena itu, momentum peringatan KAA ke-50 sekaligus penyelenggaraa KAA yang ke-2 di Indonesia jangan disia-siakan. Ajang tersebut harus dijadikan sebagai kesempatan untuk merevitalisasi sekaligus mewujudkan prinsip-prinsip yang ada pada Dasasila Bandung. Keberadaan kerja sama multilateral di antara negara-negara Asia-Afrika akan membantu penyelesaian sejumlah masalah di kawasan tersebut. Dengan demikian, melalui kemitraan strategis Asia-Afrika yang didasari Semangat Bandung, maka kompleksitas masalah Asia-Afrika, baik itu menyangkut aspek ekonomi maupun politik, akan terpecahkan. Semoga!***
Oleh HUMINCA
Mildred Baena
Mildred Baena, 50, has been identified as the mother of the former California governor's love child.
The former staff member, who retired in January, is said to have fallen pregnant with her son, who is now aged around 14, as a result of the affair.
Sources claim Baena, whose duties included cleaning, laundry, cooking and other chores, began to 'pursue Arnold' in the late Nineties, according to TMZ.
Tuesday, May 17, 2011
Six Things That Block Your Wi-Fi, and How to Fix Them
a UK-based broadband-analysis firm, shows that consumers lose an average of 30 percent of the data speed their broadband connection supplies when they use Wi-Fi connections in the home.
Why the slowdown? You've probably heard that some household electronic devices, including microwave ovens, baby monitors, and cordless phones, hamper Wi-Fi performance. To separate fact from fiction, we did some research and consulted an expert on the topic: Nandan Kalle, networking business unit manager for router manufacturer Belkin.
DSK alias Dominique Strauss-Kahn OUT?
If all this is true, what is wrong with men? Why are they so desperate? To chase a chambermaid around a room for sex is just beyond belief really. Men have no dignity that's for sure!!-
# Victim called her brother an hour after alleged assault
# Detailed entire ordeal about how Strauss-Kahn 'twice forced himself on her'
# Said his sister is now 'somewhere safe'
# Strauss-Kahn spending his first night in prison after being denied bail
# Second woman accuses him of sex attack in Paris ten years ago
# Prosecutors working to verify reports of at least one other case, which they suggested was overseas
#French lawmaker Michael Debre accused Strauss-Kahn of victimising other maids in past stays at same hotel
#Wife has 'no doubt' he's innocentThe alleged rape victim of Dominique Strauss-Kahn told a relative in her first phone call after the attack: 'Somebody did something really bad to me', he revealed tonight.
Read more: http://www.dailymail.co.uk/news/article-1387847/Somebody-did-really-bad-Brother-IMF-bosss-sex-attack-victim-recalls-moment-called-told-horrifying-assault-hotel.html#ixzz1MaXUmxY9
For the less technically minded here's what I did exactly - step by step
Mine is Aspire One with Windows XP:
1) insert USB pen into drive on a different lappie
2) download 3309.zip from the Europe (or other server)ftp://ftp.acer-euro.com/netbook/aspire_one_110/bios
3) unzip
4) move the files flashit.exe and 3309.FD to the root (eg e:/ on mine)
5) rename 3309.FD to ZG5IA32.FD
6) removed USB stick from different lappie.
7) my Aspire would not power down so I unplugged the AC and left the lid up to force the battery to drain down
8) when battery drained down, inserted USB stick into one of the USB slots (the one on the left hand side!)
9) plug in the AC
10) hold down Fn+Esc and press the power button until it comes on and starts blinking.
11) release the Fn+esc and power button which is still blinking
12) Press power button once , wait a bit and it becomes steady. (Give it 5 minutes as the man says :D )
13) When it becomes steady - have more patience - and it will with luck reboot - I think it was a good minute or so before it started rebooting for me.
14) Do the happy dance then back up your stuff!
15) donate :D
WOW Fantastic! I never thought my AAO 150 ZG5 will come back alive again. Just this morning it died suddenly without warning. When I press power on, it only lit the power green light, without activity on the harddrive, I only hear the fan working but nothing on the screen, all black.
I proceeded to download the european server for 150, downloaded version 3309.
I flashed my usb stick to FAT, saved the flashit.exe and renamed 3309.fd to ZG5IA32.FD then I placed it my AAO's 2nd USB slot (right side), fn+esc, press on and release fn+esc keys and I didn't even press on again and I noticed the USB stick is blinking. After about 20 secs, a silent, then a short flash on the screen, then VOILA, I see the screen begin booting in the normal process!
Acer Aspire One died without warning
My AAO 150 ZG5 netbook/UMPC died this morning without warning. It was working in normal condition last night while I was working and this morning, every effort to turn it on, when turned the power supply on the power light is turning green, but the hard drive activity indicator from the front panel below the screen has no blinking whatsoever. But there was a solution. Actually it’s brilliant.To make it short, I stumble from this website, I was hesitant at first but when I went to the sites provided, I tempted that I might as well try it on my AAO. I go with the European server found here.
Here’s what I did on my own experience and just follow this like what I did mine. Actually I commented from original site where I follow the steps:
1. Get a USB stick any stick and format it to FAT. You can use HPUSBFW.EXE to format the the USB stick.2. Place FLASHIT.EXE and 3309.fd (current version as of this writing) to the root directory of your USB stick and then rename it to ZG5IA32.FD
Inside your USB stick, it should have this 2 files:
ZG5IA32.FDandFLASHIT.EXE3. Place it on to your AAO USB slot, (any slot will do), with your AAO turned off.
4. Then press Fn + ESC key simultaneously. While pressing both keys, press the power button on. It should lit the green LED. Then release the Fn+ESC keys after a second or two, then notice that the USB stick is blinking, if it is, then it is flashing, just wait, don’t do anything then suddenly you’ll notice after a few seconds at most about 10 seconds I guess, you will begin to see that the BIOS will now boot properly. Bingo, your AAO now is safe from bringing it to your tech support.If you have this similar problem about your AAO died suddenly, then this guide is your best shot and if all else fails then it’s time to bring it to the tech support.
Snaptu: Karl Marx, part 7: The psychology of alienation | Peter Thompson
For Marx, rules are imposed not merely by repression but by the gradual inculcation of values
In these last two columns I want to bring us back to more speculative, philosophical and even theological ground with a discussion of ideology and of…
Click here to read the full story
--This email was sent to you from Snaptu mobile application.
Monday, May 16, 2011
We are STILL being judged on our looks, say female workers
It's news which will come as no surprise to women struggling to rise to the top in the workplace.
Sexism is till rife and appearance counts for more than ability according to a survey released today.
Almost half of women questioned said the glass ceiling still exists and 44 per cent said that a male colleague had even made an inappropriate comment about their appearance.
The Marie Claire and everywoman survey of nearly 3,000 women exposes the workplace as a daily battleground when it comes to pay, promotion and age.
Almost half (46 per cent) of the women aged 18 to 55 said they had experienced sexism.
Of the 18 to 55s polled, 63 per cent believe that a woman’s age is more of an issue in the workplace than a man’s.
The questionnaire found that 78 per cent of respondents said that being attractive helps them to get on better and 60 per cent think that overweight women are discriminated against.
Many women (60 per cent) think men are better at getting pay rises and over half (58 per cent) believe they are losing out on promotions to their male colleagues.
