Instagram

Translate

Wednesday, May 23, 2012

mesir

KAIRO, (PR).-
Rakyat Mesir, Rabu (23/5) melangsungkan pemilihan presiden untuk kali pertama pascatergulingnya Hosni Mubarak 15 bulan lalu. Pemilihan ini juga menandai berakhirnya kekuasaan Dewan Militer Tertinggi  (SCAF) sebagai pemimpin sementara selama masa peralihan.

Dilaporkan, gelaran pilpres akan berlangsung selama dua hari sampai Kamis (24/5) di 13.000 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di seluruh penjuru Negara Piramida tersebut.  TPS beroperasi mulai pukul 08.00 - 20.00 waktu setempat. Sementara hasil awal pilpres baru akan diketahui pada Minggu (27/5).


Antusias

Berdasarkan pemantauan sejumlah jurnalis internasional. mayoritas warga menyambut pilpres historis tersebut dengan suka cita. Pasalnya, selama era Mubarak, hasil pilpres sudah pasti dimenangkan pemimpin yang lengser pada Februari 2011 lalu itu.
Sistem pemerintahan yang diktaktor saat itu telah menyebabkan banyak warga malas menggunakan hak pilih mereka. Jika pun memilih, mereka sudah diarahkan untuk memilih Mubarak.
Saat ini  keadaannya sudah berbeda. Usai MUbarak dilengserkan, Mesir memasuki periode pemerintahan demokratis yang ditandai dengan pelaksanaan pemilu secara jujur, bebas, dan adil. Oleh karena itu, pada pilpres kali ini, warga berharap kesewenang-senangan yang dilakukan pemerintah lalim di masa lalu tidak lagi terulang.


Antrian warga pemilih mulai terlihat sejak pukul 08.00 pagi saat semua TPS resmi dibuka. "Ini sungguh hari yang indah," kata warga bernama Nehmedo Abdel Hadi,  yang memilih di TPS SD Omar Markram di daerah Kairo. "Sekarang saya bisa merasakan bahwa negara ini kini punya martabat," kata perempuan berkerudung berusia 46 tahun itu.

Sementara warga lainnya mengaku sangat bahagia karena untuk kali pertama dia dapat memilih dengan bebas tanpa rasa takut. "Ini kali pertama dalam sejarah Mesir kita boleh memilih presiden," kata Rania asal Mohandesseen, yang hari itu menggunakan pakaian gym dan rambutnya diikat ekor kuda. Saat ditanya siapa yang akan dipilih, Rania menjawab rahasia. "Hanya saya dan kotak suara saja yang tahu," ujarnya seraya tersenyum.



Pemenang Pilpres hadapi tantangan berat

Berdasarkan data KPU Mesir, jumlah warga pemilih yang terdaftar lebih dari 50 juta orang. Sementara kandidat yang bertarung sebanyak 12 capres dari kelompok Islamis dan sekuler. Kedua belas capres ini akan  bersaing untuk menjadi presiden pertama Mesir di era demokrasi. Diantara mereka terdapat sejumlah nama yang sebelumnya sudah dikenal semasa era MUbarak, yaitu mantan Seken Liga Arab  Amr Mussa. Dia dipandang sebagai calon kuat karena memiliki pengalaman sebagai politisi senior dan juga diplomat.  Namun, kelemahannya dia punya hubungan dnegan rezim Mubarak. Hal yang sama juga terjadi pada kandidat lainnya, Ahmed Shafiq , yang pernah menjadi  PM semasa Mubarak berkuasa.Kedua tokoh ini dianggap sebagai perwakilan rezim lama. Sementara dari kelompok Islamis, sejumlah calon mereka diantaranya Mohammed Mursi dan  Abdel Moneim Abul Fotouh ((Ikhwanul Muslimin). Mereka mengklaim sebagai calon presiden yang bersedia untuk melakukan konsesnus dengan warga Mesir yang plural.

Siapapun yang menang dalam piplres ini, dia akan mendapat tugas yang snagat berat. Pasalnya, selain harus membenahi politik, juga harus memulihkan perekonomian Mesir yang kini sangat terpuruk. Di samping itu, presiden mendatang juga harus siap untuk menghadapi sejumlah isu sektarian di kalangan masyarakat Mesir yang sangat pluralis itu.


"Insiden Bentrokan antar massa pendukung capres"


Di pihak lain, pelaksanaan pilpres diwarnai sejumlah insiden kekerasan. Seorang polisi tewas tertembak di luar salah satu TPS di Kota Kairo, Rabu (23/5). Saat itu dia hendak melerai perkelahian di antara para pendukung dua capres berbeda. Selain menewaskan polisi,  seorang warga pendukung salah satu capres dilaporkan terluka berat dalam bentrokan tersebut.
Menurut
Salah seorang pejabat senior Kemendagri yang minta identitasnya tidak disebutkan, mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan terjadinya insiden. Menurut dia, pihaknya telah mengantisipasi kejadian serupa dengan  mengerahkan ribuan polisi dan tentara. Mereka bertugas untuk membantu menjaga keamanan selama pipres berlangsung. (AFP/Reuters/Guardian/A-133)***

It is not "made in Israel" but "made in the occupied West Bank”

via Christian Science Monitor/Yahoo News

In the 45 years since gaining control of the West Bank, Israel has refrained from formally annexing the territory claimed by the Palestinians, in part out of fear of an international uproar. In trade, however, Israel has been labeling goods from Jewish settlements there as "Made in Israel" for years.
Now South Africa says it wants retailers of Israeli exports to designate products from the settlements – considered illegal by most of the international community – as made in the "occupied West Bank," a decision that some here fear could lead to a cascade of similar international efforts.
Indeed, South Africa's decision last week was followed by the government of Denmark within days, and has outraged Israeli officials who criticized the labeling rules as a "racist" step on the way to boycotting settlement products.
So far, international efforts to boycott settlement businesses have found little success. And while analysts say the move is unlikely to hurt Israel economically – West Bank industry is a fraction of the overall economy – the policy has the potential isolate Israel diplomatically if other countries follow suit.
"When people are asking, 'is it from the territories, is not?' It's mostly a political blow, not an economic blow," says Alon Liel, a former director general of the Israeli Foreign Ministry. "Because of South Africa's history of apartheid, it attracts attention regarding the legality of the settlements and fixes attention on the 'A' word. That is very meaningful because Israel has a soft belly here."
IN PICTURES – Unsettled: Jewish settlements in the West Bank
Palestinian officials welcomed the move as another lever to pressure Israel into halting expansion of Jewish settlements in the West Bank, a bone of contention which has stymied peace negotiations for more than a year and a half.
Boycott coming?
The move also raises fears that it will morph into a general boycott of all Israeli products – a stated goal of the Palestinian "Boycott, Divestment, and Sanctions" (BDS) movement.
A spokesman for the South African Embassy in Israel denied that the move amounts to a boycott because the country is not banning the import of products from the Jewish settlements. That said, the South African government wants to give citizens the option to avoid West Bank goods with transparent labeling.
"It's just to give our buying public a choice whether or not to buy," says Eugene Grobrer, the deputy head of mission at the South African Embassy in Israel. "It's for the consumer to decide what to do because there is a lot of sympathy for the Palestinian cause."
Though suburban towns have always been the most visible footprint of Israeli settlements established in the West Bank, there are several industrial zones around the West Bank which attract dozens of Israeli companies with government subsidies and tax breaks. Some of the settlements cultivate fields for agricultural exports.
In recent years, Mul-T-lock, an Israeli company acquired by a company in Sweden, relocated its facilities back across the Green Line into Israel, but it remains an exception.
Pro-Palestinian activists have sought a blanket ban on Israeli products at supermarkets in the US and Britain, with mixed success.
IN PICTURES – Unsettled: Jewish settlements in the West Bank
Racist, says Foreign Ministry
Israeli officials have expressed indignation to South African counterparts, arguing that the decision singles out Israeli manufacturers while ignoring other international territorial disputes. They argue that the settlement goods carry the "Made in Israel" label to indicate the goods are manufactured under Israeli standards, and don't point to a future annexation.
"Stigmatizing and shaming one country and its products based on national and political criteria … is tantamount to a move that bears clear racist characteristics," says Yigal Palmor, a spokesman for the Israeli foreign ministry.
Palestinian government officials said the move is a legitimate way to to contain Israel's settlement build-up and denied it's aimed at all Israeli goods.
"It is significant politically, and it will be significant economically in the future, because we hope other countries will join the boycott," says Ghassan Khatib, a Palestinian government spokesperson. "The hope is that this will contribute to holding Israel responsible for settlement expansion and hopefully stopping settlements expansion, which is necessary for the two-state solution."
Even though Israel's economy has barely felt any impact from the sanctions effort, one Western diplomat who has followed the boycott movement believes that it has long term potential to inflict damage. South Africa's move could start a slow moving snow ball if other Israeli products are tainted by consumers who can't distinguish.
"It's sheds light on this untenable contradiction about the territories. The Israeli authorities are seeking once again to erase the Green Line," says the diplomat, who was not authorized to comment publicly. "It opens up a can of worms if this starts being successful."

Arti "Bid" dan "Offer" saat bertransaksi saham

source : http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2011/03/istilah-bid-dan-offer-ketika-bermain.html

This information I got from  the above website. So, just go to that website if you want to know more about stocks investment. A recommended one to read.


Bid
dan offer adalah istilah harga saham ketika transaksi berlangsung di bursa.

Kalau anda ingin menjual saham dan diberitahu bahwa harga saham BBRI adalah Rp 5000, informasi tersebut tidak spesifik. Apakah artinya anda bisa jual BBRI di 5000 dan langsung laku atau anda harus mengantri jual (tidak langsung laku)? Perbedaan ini mungkin tidak penting bagi pendengar atau pembaca berita, tapi perbedaaan ini sangat penting untuk anda yang hendak melakukan jual-beli saham tersebut.

Maka dari itu, ketika bermain saham anda harus tahu harga spesifik saham yang ingin anda transaksikan. Dan harga spesifik tersebut selalu terdiri dari dua komponen, harga bid dan harga offer.

Arti bid dan offer, tergantung konteks kalimat, adalah sebagai berikut:


Bid = penawaran beli, minat beli, antri beli.

Offer = penawaran jual, minat jual, antri jual.


Untuk mempermudah diskusi, silahkan lihat contoh tampilan Order Book dari Indo Premier Online Trading (IPOT) untuk saham Garuda Indonesia (GIAA) berikut ini:

Tampilan harga bid dan offer ini dipisah menjadi dua kolom: biasanya kolom kiri adalah harga bid dan kolom kanan harga offer. Dari tampilan tersebut anda bisa melihat bahwa harga penawaran beli (bid) tertinggi GIAA adalah Rp 520 sebanyak 23,328 lot sedangkan harga penawaran jual (offer) terendah GIAA adalah Rp 530 sebanyak 9,782 lot.

Perhatikan: harga bid tertinggi dan harga offer terendah selalu berada di baris pertama.

Kalau anda mau menjual GIAA dan langsung laku, anda harus jual di harga bid Rp 520; kalau anda mau membeli GIAA dan langsung dapat, anda harus beli di harga offer Rp 530.

[Saya tidak turut mendiskusikan jumlah lot bid dan offer dengan detil di sini. Saya berencana menulis blog tersendiri tentang hal ini.]

Sebenarnya, arti bid adalah semua harga penawaran beli di kolom kiri (dari Rp 520 sampai dengan 460 ) dan arti offer adalah semua harga penawaran jual di kolom kanan (530 sampai dengan 620). Tapi dalam praktek sehari-hari, pemain saham memakai istilah bid biasanya untuk harga penawaran beli tertinggi dan offer untuk harga penawaran jual terendah.

Memang, kalau anda melakukan sendiri jual-beli saham melalui online-trading, anda tidak perlu khawatir tentang istilah-istilah ini. Tapi kalau anda ingin mengungkapkan niat anda kepada orang lain misalkan kepada pialang anda harus menggunakan istilah-istilah ini dengan seksama.

Menggunakan contoh di atas, kalau anda bertanya harga GIAA melalui telepon, pialang anda akan menjawab bid Rp 520, offer 530. Artinya, kalau anda mau menjual GIAA langsung laku, anda harus jual di Rp 520; kalau anda mau beli GIAA langsung dapat, anda harus beli di Rp 530.

Misalkan menurut anda harga 520 terlalu mahal dan hanya mau membeli GIAA di harga 500. Nah, anda bisa mengantri beli di harga 500 dengan berkata seperti ini, "Bid GIAA di (harga) 500 sebanyak 100 lot." Atau kalau anda mau jual di 550, "Offer GIAA di 550 100 lot."

Pada konteks kalimat di atas, kata bid dan offer menjadi kata kerja yang berarti antrikan beli dan antrikan jual.

Intinya, kalau anda bertanya bid/offer saham saat ini, pialang berasumsi anda menanyakan harga minat beli tertinggi dan harga minat jual terendah saat ini (harga pada baris pertama bid/offer). Setelah anda mendapat informasi itu, anda bisa antri beli (bid) di harga minat beli tertinggi tersebut ataupun harga lebih rendah; anda juga bisa antri jual (offer) di harga minat jual terendah tersebut atapun harga lebih tinggi. 

Kata bid dan offer dari bahasa Inggris ini kerap dipakai pemain saham Indonesia sebagai istilah umum bermain saham karena belum adanya padanan kata bahasa Indonesia yang sama singkat dan sama padatnya.

Tuesday, May 22, 2012

You have not buried any other mistakes in concrete, have you, per chance? Aussie Parliament did

Cangkir_salah_eja

You have not buried any other mistakes in concrete, have you, per chance? Aussie Parliament did :)

read here more via AP and Yahoo News

Australian officials wanted to get rid of some commemorative mugs that misspelled President Barack Obama's name. And boy, did they ever.
A Parliament House official told senators on Monday that 198 mugs were smashed and buried under wet concrete at a loading dock behind the building. Sen. John Faulkner called it a "mafia-style execution" for the mugs, which had an extra "r'' printed in Obama's first name.
The government made 200 of the mugs to commemorate the president's planned visit to Australia in 2010, which was later canceled. No mugs were created when the American president finally made it to Australia last year.
Only two of the mugs were ever sold from the Parliament House gift shop, including one to the journalist who reported that Obama's name had been misspelled.
"Due to the sensitivity associated with the mistake that was made with the president's name, the last thing we wanted was for the fragments to be found on a garbage tip somewhere," said Bronwyn Graham, the Parliament House official.
"I am not saying it was a bad idea. It is creative; I will give you that," Faulkner told Graham and her superior, David Kenny, who had authorized the disposal.
"You have not buried any other mistakes in concrete, have you Mr. Kenny, per chance?" Faulkner asked. Kenny said he had not.

You have not buried any other mistakes in concrete, have you, per chance? Aussie Parliament did