"Saya membaca artikel bagus tentang naiknya tingkat depresi karena orang-orang melihat Facebook orang lain dan melihat gambaran kehidupan yang sempurna," ucapnya lagi.
Padahal pada kenyataannya, kehidupan yang terpampang di social media belum tentu cerminan kehidupan sebenarnya. Imej yang ditampilkan di Instagram, Facebook atau Twitter pun umumnya hanya potongan-potongan dari kehidupan seseorang dan bukan sesuatu yang utuh. Sehingga terciptalah bingkai dari hidup yang tampak sempurna.
"Misalnya saat Anda berteriak pada anak, Anda tidak mungkin foto selfie ketika jadi orangtua yang buruk. Tidak, Anda menunggu foto selfie yang sempurna. 'Apakah aku terlihat lebih kurus sekarang? Apa aku terlihat bagus?' Inilah cerminan yang salah dari kehidupan seseorang. Hollywood kini jadi sesuatu yang sangat global. Setiap orang (bergaya hidup) Hollywood sekarang," tutur ibu dua anak ini.
(asf/asf)

No comments:
Post a Comment