Perang capres melalui jejaring sosial dunia maya.
PERDANA Menteri Inggris Gordon Brown mengatakan, era jejaring dunia maya lebih bergolak daripada revolusi ekonomi dan sosial di masa lalu. Pun, jaringan internet telah merevolusi dunia politik secara luar biasa, baik itu di level domestik maupun internasional. Menurut pengamat sosial Budi Radjab, internet memang telah mengubah kehidupan manusia di banyak aspek.Namun demikian, konstelasi politik dan sosial yang ada pada era teknologi informasi saat ini tidak dapat dibandingkan dengan konstelasi politik dan sosial di era sebelumnya. Perkembangan yang sangat pesat di duni ainformasi teknologi, kata Budi, memang telah meningkatkan kohesi sosial dan politik. Akan tetapi, lanjut Budi, kohesi sosial dan politik yang terjadi di era informasi ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan kohesi sosial dan politik sebelum era internet. "Kohesi sosial di masa lampau dengan di masa sekarang jelas berbeda, jadi pengertiannya tidak bisa disamakan," ujarnya.
Saat ini masyarakat biasa di manapun berada dapat menggunakan teknologi internet seperti Facebook dan Twitter untuk mengalang kekuatan sekaligus menegaskan pendirian mereka tentang apapun, yang sebelumnya hal itu mustahil untuk dilakukan. Melalui cara baru tersebut, mereka ingin pendapat, harapan, unek-uneknya dapat menarik perhatian pihak-pihak yang terkait. Selama ini setiap individu berupaya untuk mengenal lebih dekat tetangganya. Akan tetapi, internet memberikan perspektif lain dalam mengenal sesama kita. Era jejaring sosial di dunia maya telah membuat kita belajar untuk hidup dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali. Masyarakat tanpa ada batasan geografis dapat bergabung dan berkolaborasi dalam komunitas yang tidak lagi hanya berbasis kedaerahan, tetapi jaringan yang memungkinkan mereka untuk menggalang kekuatan melewati batas-batas wilayah. Dampak dari penggunaan jaringan ini sangat luar biasa. Pergerakan informasi menjadi sangat dinamis dan tidak terbatas. Informasi mengenai kekerasan politik di suatu wilayah, akan segera tersebar dengan cepat ke wilayah lain, melewati batas-batas geografis. Sebagai contoh, pada kampanye pemilu presiden di Iran yang baru usai, kaum muda Iran dengan sigap melaporkan apa yang terjadi di sana melalui jejaring sosial twitter. Melalui pesan singkat sejumlah 140 karakter yang dikirimkan melalui jejaring twitter, pendapat masyarakat Iran mengenai pemilu di wilayahnya terdiseminasi secara global. Pun, melalui Facebook dan Youtube, masyarakat biasa dapat segera menyampaikan perkembangan situasi di sana secara real time. Persebarannya jauh lebih cepat dari mainstream media manapun. Pelanggaran HAM yang trejadi di sejumlah negara dapat segera diketahui sevara universal. Akibatnya, saat suatu rezim berupaya untuk mengerasi HAM seseorang, hal itu dapat segera dicegah dengan bantuan penyebaran informasi dan penggalangan dukungan melalui dunia maya. Sudah banyak individu yang selamat dari kekerasan politik di sejumlah negara Afrika dan Asia, berkat dukungan dan solidaritas yang digalang melalui jejaring sosial di dunia maya. Kini, bukan zamannya lagi informasi menjadi milik elit tertentu atau media tertentu. Di manapun masyarakat berada, mereka kini dapat segera melaporkan setiap peristiwa di wilayahnya secara global dan berbagi informasi mengenai itu dengan sesamanya di berbagai belahan dunia, tanpat terikat oleh batas wilayah dan waktu.
****
Pada masa pemilu presiden AS tahun lalu, peranan jejaring sosial sangat luar biasa. Kampanye digital berhasil menggalang dukungan massa dan dana yang luar biasa, yang tidak pernah terjadi di era sebelumnya. Kesigapan Obama memanfaatkan kekuatan teknologi Internet dalam berkampanye, telah menjadi faktor penentu kemenangannya sebagai Presiden AS ke- 44. Tidak dapat disangkal, sejumlah jejaring sosial yang digunakan Obama, seperti Facebook dan Twitter, telah menjadi alat efektif untuk berkomunikasi secara politi kepada konstituennya. Salah seorang anggota tim sukses Obama, Beneva Schulte, mengatakan bahwa keberhasilan kampanye Obama disebabkan partai tidak menunggu masyarakat datang untuk menyampaikan dukungannya, melainkan partai yang mendatangi mereka secara langsung melalui jejaring sosial Youtube dan Facebook. Menurut Schulte, konstituen politik dari kalangan mahasiswa,kecuali mereka aktivis politik, tidak akan mau mengakses situs ParTai Demokrat atau menghadiri kampaye politik secara langsung. Oleh karena itu, pihaknya mnegadakan pertemuan secara maya melalui jejaring sosial, Facebook dan YouTube. Keampuhan Facebook untuk mengintegrasikan komunikasi politik menjadi jejaring sosial yang menggalang dukungan jauh lebih luas dari kampaye tradisional, telah membuat kendaraan politik yang dipakai Obama diganjar kesuksesan yang luar biasa. Akan tetapi, kesusksesan penggunaan jejaring sosial dalam menggalang dukungan dan kontribusi finansial dari masyarakat, tidak berlaku di Indonesia. Setidaknya, pada pemilihan presiden yang akan berlangsung pada 8 Juli mendatang, penggunaan jejaring sosial seperti Facebook untuk menggalang dukungan massa dan dana, tidak trellau signifikan. Bahkan, keberadaan jejaring sosial ini tidak terlalu diulik dan dilirik oleh tim sukses dari ketiga capres/cawapres yang berkompetisi.
Dalam hal ini, Rudy Harsa Tanaya dari tim sukses Megawati-Prabowo kepada "PR", mengatakan, pemanfaatan jejaraing sosial seperti Facebook, bukan prioritas bagi partainya, baik itu untuk menggalang kekuatan massa dan juga kontribusi finansial. Pasalnya, secara statistik pengguna internet di Indonesia masih sangat minim, tidak seperti di Amerika Serika dan negara maju. Oleh karena itu, kontribusi jejaring sosial untuk menggalang dukungan, tidak dapat diandalkan. Selain itu, secara karena secara demografi masyarakat Indonesia tinggal di pedesaan dan juga mayoritas konstituen politik pendukung Mega-Pro berasal dari kalangan menengah ke bawah, kampaye terbuka dan penempelan sejumlah atribut, masih menjadi media utama untuk menggalang dukungan. Akan tetapi, kata Rudy, penggunaan jejaring sosial untuk menggalang dukungan tetap dilakukan, hanya tidak menjadi alat utama. Penggiatnya pun berasal dari indidvidu simpatisan Mega-Pro, bukan merupakan kebijakan di tiap ranting partai. Di samping itu, kehadiran situs resmi Mega-Pro pun tidak lantas dapat dijadikan alat utama untuk menyampaikan informasi mengenai program pasangan capres/cawapres karena mayoritas konstituen belum punya akses terhadap jaringan internet.
Hal senada juga disampaikan Karhi Nisjar, anggota tim sukses dari capres/cawapres Jusuf Kalla-Wiranto. Menurut Karhi, meskipun peranan jejaring sosial di dunia maya telah menjadi media efektik untuk komunikasi politik di sjeumlah negara, hal itu belum terjadi di Indonesia. Kendalanya, infrastruktur internet dan penggunanya masih minim. Oleh karena itu, pihaknya masih memanfaatkan pendekatan tradisional dalam menggalang massa, seperti kampanye di lapangan, pemasangan spanduk, dan iklan di surat kabar serta media elektronik. Adapun situs JK-Win, kata Karhi, pengelolaannya merupakan wewenang penggiat partai di level pusat. Hal ini terkait dengan keperluan untuk menyampaikan informasi secara nasional. Dalam mencari massa, Kahri menuturkan, pihaknya masih berfokus pada penggalangan dukungan melalui jaringan mesin politik mereka, yakni massa dari Partai Golkar dan Hanura. Selain itu, di luar mesin politik, dukungan pun dicarai melalui pemnafaatan simpul-simpul komunitas yang punya massa signifikan, seperti Paguyuban Pasundan, NU, Muhammadiyah, dan sebagainya. Penggalangan massa secara tradisional itulah yang terus digiatkan untuk menggalang dukungan massa JK-Win. Kultur politik masyarakat Indonesia yang pragmatis ditengarahi Karhi, tidak efektif dalam menggalang dukungan melalui jejaring sosial.
Sementara Iwan R. Sulandjana dari tim sukses SBY-Boediono saat dihubungi "PR" pekan lalu, menuturkan, pihaknya belum menjadikan aplikasi internet seperti Facebook sebagai salah satu strategi kampaye utama untuk mendapatkan dukungan massa. Dukungan masih dicari melalui kampaye door to door karena sampai saat ini, hal itulah yang masih efektif. Akan tetapi, diakuinya, pemanfaatan teknologi informasi memang tidak dapat diabaikan dalam meraih dukungan. Oleh karena itu, situs SBY-Boediyono pun dibuat untuk menyampaikan program-program mereka kepada masyarakat di manapun mereka berada. Akan tetapi, terkait dengan berapa banyak yang mengakses situs tersebut, kata Iwan, hal itu menjadi wewenang tim sukses di tingkat pusat. Tambahan pula, keberadaan situs di tingkat nasional tersebut, tidak dapat diandalkan untuk meraih dukungan masyarakat secara integral sehingga strategi kampaye pun harus disesuaikan dengan segmentasi masyarakat yang disasar. Namun demikian, kampanye yang sasarannya door to door tetap menjadi cara utama untuk meraih massa secara efektif.
Terkait dengan penggalangan massa politik melalui jejaring sosial, pengamat sosial Budi Radjab menuturkan, efektifitasnya belum dapat disejajarkan dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, umumnya masyarakat sudah tidak lagi buta politik Mereka kritis terhadap para pemimpin di negara tersbeut. Oleh karena itu, para pemimpin di negara tersebut harus pandai dalam memainkan kepiawaiannya dalam meraih dukungan. Janji-janji politik yang diucapkan akan terus dikritisi oleh masyarakat setempat, sehingga saat membuat kontrak politik, para politisi akan berupaya untuk memenuhinya. Jika tidak, mereka akan terrdepak dari pemerintahan. Akan tetapi, kultur politik di Indonesia, menurut Budi Radjab, menunjukkan anomali di mana masyarakat terllau permisif dengan perilaku para politisi di negara ini. Tidak heran, jika selama hampir enam dekade, politisi di negara ini tidak pernah berupaya untuk membuat program yang benar-benar memberikan benefitas bagi rakyat, melainkan bagi kelompoknya sendiri. Hal ini bisa menjelaskan mengapa banyak orang yang ingin menjadi anggota legislatif atau memilih karir sebagai politisi dengan latarbelakang kekuasaan dan uang menjadi motifnya. Janji-janji politiksemasa kampanye, menjadi tidak berbekas saat para kandidat capres/cawapres terpilih menjadi pemenang. Justru, kekuasaan yang diamanahkan rakyat kepada mereka seringkali diselewengkan demi kepentingan golongannya sendiri. Parahnya, masyarakat seperti bisu merespons perilaku para pemimpin di negara ini. Masyarakat tidak marah, sebaliknya memaafkan, saat janji-janji politik tidak direralisasikan. Jika hal ini terus dibiarkan, penyelewangan demi penyelewangan akan terus terjadi. Minimnya dukungan masyarakat yang kritis, akan menyuburkan kehadiran pemimpin yang koruptif. Mereka ini akan terus berupaya untuk melanggengkan status kenyamanannya. Karena itu, penggunaan jejaring sosial, sebenarnya, bisa menjadi alat untuk merekatkan satu sama lainnya dalam memperjuangkan keadilan dan menegakkan kebenaran. Jejaring sosial suatu hari di Indonesia akan menjadi venakular baru dalam mewujudkan pemerintahan yang adil dan bersih.
PERDANA Menteri Inggris Gordon Brown mengatakan, era jejaring dunia maya lebih bergolak daripada revolusi ekonomi dan sosial di masa lalu. Pun, jaringan internet telah merevolusi dunia politik secara luar biasa, baik itu di level domestik maupun internasional. Menurut pengamat sosial Budi Radjab, internet memang telah mengubah kehidupan manusia di banyak aspek.Namun demikian, konstelasi politik dan sosial yang ada pada era teknologi informasi saat ini tidak dapat dibandingkan dengan konstelasi politik dan sosial di era sebelumnya. Perkembangan yang sangat pesat di duni ainformasi teknologi, kata Budi, memang telah meningkatkan kohesi sosial dan politik. Akan tetapi, lanjut Budi, kohesi sosial dan politik yang terjadi di era informasi ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan kohesi sosial dan politik sebelum era internet. "Kohesi sosial di masa lampau dengan di masa sekarang jelas berbeda, jadi pengertiannya tidak bisa disamakan," ujarnya.
Saat ini masyarakat biasa di manapun berada dapat menggunakan teknologi internet seperti Facebook dan Twitter untuk mengalang kekuatan sekaligus menegaskan pendirian mereka tentang apapun, yang sebelumnya hal itu mustahil untuk dilakukan. Melalui cara baru tersebut, mereka ingin pendapat, harapan, unek-uneknya dapat menarik perhatian pihak-pihak yang terkait. Selama ini setiap individu berupaya untuk mengenal lebih dekat tetangganya. Akan tetapi, internet memberikan perspektif lain dalam mengenal sesama kita. Era jejaring sosial di dunia maya telah membuat kita belajar untuk hidup dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali. Masyarakat tanpa ada batasan geografis dapat bergabung dan berkolaborasi dalam komunitas yang tidak lagi hanya berbasis kedaerahan, tetapi jaringan yang memungkinkan mereka untuk menggalang kekuatan melewati batas-batas wilayah. Dampak dari penggunaan jaringan ini sangat luar biasa. Pergerakan informasi menjadi sangat dinamis dan tidak terbatas. Informasi mengenai kekerasan politik di suatu wilayah, akan segera tersebar dengan cepat ke wilayah lain, melewati batas-batas geografis. Sebagai contoh, pada kampanye pemilu presiden di Iran yang baru usai, kaum muda Iran dengan sigap melaporkan apa yang terjadi di sana melalui jejaring sosial twitter. Melalui pesan singkat sejumlah 140 karakter yang dikirimkan melalui jejaring twitter, pendapat masyarakat Iran mengenai pemilu di wilayahnya terdiseminasi secara global. Pun, melalui Facebook dan Youtube, masyarakat biasa dapat segera menyampaikan perkembangan situasi di sana secara real time. Persebarannya jauh lebih cepat dari mainstream media manapun. Pelanggaran HAM yang trejadi di sejumlah negara dapat segera diketahui sevara universal. Akibatnya, saat suatu rezim berupaya untuk mengerasi HAM seseorang, hal itu dapat segera dicegah dengan bantuan penyebaran informasi dan penggalangan dukungan melalui dunia maya. Sudah banyak individu yang selamat dari kekerasan politik di sejumlah negara Afrika dan Asia, berkat dukungan dan solidaritas yang digalang melalui jejaring sosial di dunia maya. Kini, bukan zamannya lagi informasi menjadi milik elit tertentu atau media tertentu. Di manapun masyarakat berada, mereka kini dapat segera melaporkan setiap peristiwa di wilayahnya secara global dan berbagi informasi mengenai itu dengan sesamanya di berbagai belahan dunia, tanpat terikat oleh batas wilayah dan waktu.
****
Pada masa pemilu presiden AS tahun lalu, peranan jejaring sosial sangat luar biasa. Kampanye digital berhasil menggalang dukungan massa dan dana yang luar biasa, yang tidak pernah terjadi di era sebelumnya. Kesigapan Obama memanfaatkan kekuatan teknologi Internet dalam berkampanye, telah menjadi faktor penentu kemenangannya sebagai Presiden AS ke- 44. Tidak dapat disangkal, sejumlah jejaring sosial yang digunakan Obama, seperti Facebook dan Twitter, telah menjadi alat efektif untuk berkomunikasi secara politi kepada konstituennya. Salah seorang anggota tim sukses Obama, Beneva Schulte, mengatakan bahwa keberhasilan kampanye Obama disebabkan partai tidak menunggu masyarakat datang untuk menyampaikan dukungannya, melainkan partai yang mendatangi mereka secara langsung melalui jejaring sosial Youtube dan Facebook. Menurut Schulte, konstituen politik dari kalangan mahasiswa,kecuali mereka aktivis politik, tidak akan mau mengakses situs ParTai Demokrat atau menghadiri kampaye politik secara langsung. Oleh karena itu, pihaknya mnegadakan pertemuan secara maya melalui jejaring sosial, Facebook dan YouTube. Keampuhan Facebook untuk mengintegrasikan komunikasi politik menjadi jejaring sosial yang menggalang dukungan jauh lebih luas dari kampaye tradisional, telah membuat kendaraan politik yang dipakai Obama diganjar kesuksesan yang luar biasa. Akan tetapi, kesusksesan penggunaan jejaring sosial dalam menggalang dukungan dan kontribusi finansial dari masyarakat, tidak berlaku di Indonesia. Setidaknya, pada pemilihan presiden yang akan berlangsung pada 8 Juli mendatang, penggunaan jejaring sosial seperti Facebook untuk menggalang dukungan massa dan dana, tidak trellau signifikan. Bahkan, keberadaan jejaring sosial ini tidak terlalu diulik dan dilirik oleh tim sukses dari ketiga capres/cawapres yang berkompetisi.
Dalam hal ini, Rudy Harsa Tanaya dari tim sukses Megawati-Prabowo kepada "PR", mengatakan, pemanfaatan jejaraing sosial seperti Facebook, bukan prioritas bagi partainya, baik itu untuk menggalang kekuatan massa dan juga kontribusi finansial. Pasalnya, secara statistik pengguna internet di Indonesia masih sangat minim, tidak seperti di Amerika Serika dan negara maju. Oleh karena itu, kontribusi jejaring sosial untuk menggalang dukungan, tidak dapat diandalkan. Selain itu, secara karena secara demografi masyarakat Indonesia tinggal di pedesaan dan juga mayoritas konstituen politik pendukung Mega-Pro berasal dari kalangan menengah ke bawah, kampaye terbuka dan penempelan sejumlah atribut, masih menjadi media utama untuk menggalang dukungan. Akan tetapi, kata Rudy, penggunaan jejaring sosial untuk menggalang dukungan tetap dilakukan, hanya tidak menjadi alat utama. Penggiatnya pun berasal dari indidvidu simpatisan Mega-Pro, bukan merupakan kebijakan di tiap ranting partai. Di samping itu, kehadiran situs resmi Mega-Pro pun tidak lantas dapat dijadikan alat utama untuk menyampaikan informasi mengenai program pasangan capres/cawapres karena mayoritas konstituen belum punya akses terhadap jaringan internet.
Hal senada juga disampaikan Karhi Nisjar, anggota tim sukses dari capres/cawapres Jusuf Kalla-Wiranto. Menurut Karhi, meskipun peranan jejaring sosial di dunia maya telah menjadi media efektik untuk komunikasi politik di sjeumlah negara, hal itu belum terjadi di Indonesia. Kendalanya, infrastruktur internet dan penggunanya masih minim. Oleh karena itu, pihaknya masih memanfaatkan pendekatan tradisional dalam menggalang massa, seperti kampanye di lapangan, pemasangan spanduk, dan iklan di surat kabar serta media elektronik. Adapun situs JK-Win, kata Karhi, pengelolaannya merupakan wewenang penggiat partai di level pusat. Hal ini terkait dengan keperluan untuk menyampaikan informasi secara nasional. Dalam mencari massa, Kahri menuturkan, pihaknya masih berfokus pada penggalangan dukungan melalui jaringan mesin politik mereka, yakni massa dari Partai Golkar dan Hanura. Selain itu, di luar mesin politik, dukungan pun dicarai melalui pemnafaatan simpul-simpul komunitas yang punya massa signifikan, seperti Paguyuban Pasundan, NU, Muhammadiyah, dan sebagainya. Penggalangan massa secara tradisional itulah yang terus digiatkan untuk menggalang dukungan massa JK-Win. Kultur politik masyarakat Indonesia yang pragmatis ditengarahi Karhi, tidak efektif dalam menggalang dukungan melalui jejaring sosial.
Sementara Iwan R. Sulandjana dari tim sukses SBY-Boediono saat dihubungi "PR" pekan lalu, menuturkan, pihaknya belum menjadikan aplikasi internet seperti Facebook sebagai salah satu strategi kampaye utama untuk mendapatkan dukungan massa. Dukungan masih dicari melalui kampaye door to door karena sampai saat ini, hal itulah yang masih efektif. Akan tetapi, diakuinya, pemanfaatan teknologi informasi memang tidak dapat diabaikan dalam meraih dukungan. Oleh karena itu, situs SBY-Boediyono pun dibuat untuk menyampaikan program-program mereka kepada masyarakat di manapun mereka berada. Akan tetapi, terkait dengan berapa banyak yang mengakses situs tersebut, kata Iwan, hal itu menjadi wewenang tim sukses di tingkat pusat. Tambahan pula, keberadaan situs di tingkat nasional tersebut, tidak dapat diandalkan untuk meraih dukungan masyarakat secara integral sehingga strategi kampaye pun harus disesuaikan dengan segmentasi masyarakat yang disasar. Namun demikian, kampanye yang sasarannya door to door tetap menjadi cara utama untuk meraih massa secara efektif.
Terkait dengan penggalangan massa politik melalui jejaring sosial, pengamat sosial Budi Radjab menuturkan, efektifitasnya belum dapat disejajarkan dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, umumnya masyarakat sudah tidak lagi buta politik Mereka kritis terhadap para pemimpin di negara tersbeut. Oleh karena itu, para pemimpin di negara tersebut harus pandai dalam memainkan kepiawaiannya dalam meraih dukungan. Janji-janji politik yang diucapkan akan terus dikritisi oleh masyarakat setempat, sehingga saat membuat kontrak politik, para politisi akan berupaya untuk memenuhinya. Jika tidak, mereka akan terrdepak dari pemerintahan. Akan tetapi, kultur politik di Indonesia, menurut Budi Radjab, menunjukkan anomali di mana masyarakat terllau permisif dengan perilaku para politisi di negara ini. Tidak heran, jika selama hampir enam dekade, politisi di negara ini tidak pernah berupaya untuk membuat program yang benar-benar memberikan benefitas bagi rakyat, melainkan bagi kelompoknya sendiri. Hal ini bisa menjelaskan mengapa banyak orang yang ingin menjadi anggota legislatif atau memilih karir sebagai politisi dengan latarbelakang kekuasaan dan uang menjadi motifnya. Janji-janji politiksemasa kampanye, menjadi tidak berbekas saat para kandidat capres/cawapres terpilih menjadi pemenang. Justru, kekuasaan yang diamanahkan rakyat kepada mereka seringkali diselewengkan demi kepentingan golongannya sendiri. Parahnya, masyarakat seperti bisu merespons perilaku para pemimpin di negara ini. Masyarakat tidak marah, sebaliknya memaafkan, saat janji-janji politik tidak direralisasikan. Jika hal ini terus dibiarkan, penyelewangan demi penyelewangan akan terus terjadi. Minimnya dukungan masyarakat yang kritis, akan menyuburkan kehadiran pemimpin yang koruptif. Mereka ini akan terus berupaya untuk melanggengkan status kenyamanannya. Karena itu, penggunaan jejaring sosial, sebenarnya, bisa menjadi alat untuk merekatkan satu sama lainnya dalam memperjuangkan keadilan dan menegakkan kebenaran. Jejaring sosial suatu hari di Indonesia akan menjadi venakular baru dalam mewujudkan pemerintahan yang adil dan bersih.

No comments:
Post a Comment