Instagram

Translate

Tuesday, November 16, 2010

AUSTRALIANS want to go back to the polls - sooner rather than later

AUSTRALIANS want to go back to the polls - sooner rather than later, a
social trends report has found.

The report found that a surprising amount of voters have serious
concerns about the stability of the new government and are in favour
of another election, even if it meant another campaign and more cost
to the taxpayer.

Adding to Julia Gillard's woes is the fact that many voters are deeply
uncomfortable about how she became Prime Minister.

The Ipsos Mackay Mind and Mood October report, which measures
Australian attitudes to a wide range of subjects through extensive
group surveys, said that the ousting of Kevin Rudd was still an issue
for voters.

The report is based on group discussions conducted in Sydney,
Melbourne, Brisbane, Adelaide, Bendigo and Townsville in September
2010.

Ipsos Mackay Chief researcher Rebecca Huntley said: "For those who
believed Gillard instigated the coup, she was viewed as disloyal and
power hungry.

"For those who believed she was merely a puppet of the ALP's faceless
men, they were disappointed she didn't show greater strength and
independence."

Many voters feel uneasy the new government did not win a majority.

"The new paradigm of politics was causing new anxieties for many. One
major concern voiced was that the situation was too precarious, with
even a minor event sending us back to the polls sooner rather than
later," the report said.

"As one voter put it, 'The sooner something gets sorted out in another
election the better. At least we will get something that is
definite'," Ms Huntley said.

"Another voter… felt insecure about a government 'elected by only half
the population. I know it costs money to go back to the polls but I
think we should do it,' she said."

Many of those surveyed seemed to feel Ms Gillard stood for nothing, or
very little other than holding onto power.

This is a dramatic shift in opinion from just six months before when
the Mind and Mood April survey found consumers held mainly positive
attitudes towards the then Deputy Prime Minister.

"In our April Mind & Mood, consumers seemed to hold great expectations
for Julia Gillard. They saw her claims to the top job as legitimate,"
Ms Huntley said.

A convincing win at the ballot might have changed the sense of unease
about how she became Prime Minister before the election, but Labor's
lacklustre result and the drawn out negotiations with the Independents
have left voters with political fatigue and an overwhelming desire for
politicians to "just get on with it".

"Certainly the drawn out reasoning of the Independents and Mr
Oakeshott’s famous 17-minute speech had worn their patience thin," Ms
Huntley said.

The report said that once the decision on forming government was made,
consumers were quick to turn their attentions elsewhere.

The overwhelming mood amongst the participants when politics was
raised in discussion was anger, cynicism and frustration with the
two-party system.

"They have serious problems with the two-party system (specifically
the perceived lack of difference between the two major parties) and
the apparent inability of our political leaders to think and act
long-term for the benefit of the nation," the report said.

While the spectacular success of the Greens and their elevation to
centre stage was mentioned by many, the report found more wanted to
discuss the role played by the Independents.

"Despite the concerns about the sudden power of the Independents,
consumers recognised that if you were lucky enough to live in one of
their electorates, you were likely to be better looked after by
government at least until the next Federal Election."

According to Ms Huntley, the test for the Gillard Government is
whether it can disprove criticisms that it is weak and plagued by
infighting, and can drive it's own legislative agenda on broadband, a
carbon tax and asylum seekers.

"It all amounts to a somewhat tentative hold on power," she said.

"And yet the way she manages the job now, her proven capacity to
negotiate and communicate outcomes may well give her leadership the
solid foundations it needs."

Other key findings included:

- Despite political pessimism Australians are more confident about the
economy and their future prosperity.

- Increased sense of job security and a general feeling that the
rewards from employment were increasing

- Lingering anxiety about immigration, in particular Muslim immigration

- Fears about scarcity of resources, water in particular and the cost
of energy. Also concerned about the lack of forward planning by
governments in this area.

- Rising concerns about health and ageing, with an increased focus on
preventative health

- Increased awareness of damaging effects of alcohol

- Increased optimism about the economy did not alleviate the pressures
of modern life with many planning holiday escapes, parties or even
researching family history.

- Love affair with sport still strong but many are increasingly
concerned about sports players behaving badly e.g. Stephanie Rice,
BenCousins and an assortment of Football stars


Read more: http://www.news.com.au/national/australians-want-a-new-election-now/story-e6f...

Pulang Kampung, nih!

------Original Message------
From: U.S. Embassy Jakarta-Public Affairs
To: U.S. Embassy Jakarta-Public Affairs
Subject: PERNYATAAN PERS: PIDATO PRESIDEN AS BARACK OBAMA DI JAKARTA
Sent: Nov 12, 2010 11:21 AM

 
PERNYATAAN PERS                                                                        JUMAT, 12 NOVEMBER 2010
 
 
 
Pidato Presiden AS
Barack Obama di Jakarta
 
Universitas Indonesia Jakarta, Indonesia
10 November 2010
 
PRESIDEN:    Terima kasih, terima kasih, terima kasih banyak, terima kasih untuk anda semua.  Selamat Pagi.  (tepuk tangan).   Sungguh menggembirakan berada disini, di Universitas Indonesia.  Kepada para dosen, staf dan mahasiswa, dan kepada Dr. Gumilar Rusliwa Sumantri, terima kabih banyak atas keramahtamahan anda. (tepuk tangan)
Assalamualaikum dan salam sejahtera.  Terima kasih untuk sambutan luar biasa ini.  Terima kasih kepada rakyat Jakarta dan terima kasih kepada rakyat Indonesia.
Pulang kampung nih. (tepuk tangan).  Saya sangat gembira kembali berada di Indonesia dan bahwa Michelle sempat menemani saya. Kami menghadapi beberapa pembatalan tahun ini, tetapi saya bertekad untuk mengunjungi negara yang punya arti sedemikian besarnya untuk saya. Sayangnya, ini merupakan kunjungan yang relatif singkat, tetapi saya berharap bisa datang kembali setahun dari sekarang, saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Timur. (tepuk tangan)
Sebelum saya lanjutkan, saya ingin menyampaikan bahwa pikiran dan doa kami bersama warga Indonesia yang terserang tsunami dan letusan gunung berapi baru-baru ini – khususnya mereka yang kehilangan sanak saudara yang mereka cintai dan mereka yang kehilangan tempat tinggal. Dan saya ingin anda semua mengetahui, seperti biasanya, Amerika Serikat mendampingi Indonesia dalam menanggapi bencana alam ini dan kami gembira bisa membantu sesuai kebutuhan. Ketika tetangga membantu tetangga lainnya dan keluarga menampung mereka yang kehilangan tempat tinggal, saya tahu bahwa kekuatan dan keuletan rakyat Indonesia akan membuat anda mampu mengatasinya sekali lagi.
Baiklah saya mulai dengan sebuah pernyataan sederhana: Indonesia bagian dari diri saya. (tepuk tangan).  Saya pertama kali datang ke negara ini ketika ibu saya menikah dengan seorang Indonesia bernama Lolo Soetoro.  Dan  sebagai anak muda, saya  -- sebagai anak muda  saya datang ke dunia yang berbeda. Tetapi rakyat Indonesia secara cepat membuat saya merasa seperti di rumah sendiri.
Jakarta – kini, Jakarta  sangat berbeda waktu itu. Kota ini memiliki bangunan-bangunan yang tingginya hanya beberapa tingkat.  Ini tahun 1967, ’68 – kebanyakan dari anda belum lahir waktu itu (tawa).  Hotel Indonesia merupakan salah satu dari sedikit gedung tinggi, dan hanya ada satu pusat belanja yang baru dan dinamakan Sarinah.  Cuman itu. (tepuk tangan).  Becak dan bemo, itulah kendaraan untuk bepergian.  Kendaraan ini lebih banyak dari mobil waktu itu.  Dan tak ada jalan raya lebar seperti sekarang.  Kebanyakan berlanjut dengan jalan yang tidak diaspal dan kampung.
Lalu kami pindah ke Menteng Dalam, dimana – (tepuk tangan) --  hai, apakah ada yang dari Menteng Dalam disini. (tepuk tangan).  Dan kami tinggal di sebuah rumah kecil.  Kami punya pohon mangga di depannya.  Dan saya jatuh cinta kepada Indonesia ketika bermain layang-layang, berlari di sepanjang sawah, menangkap capung dan membeli sate dan bakso dari penjaja di jalan. Sate! (tawa).  Saya ingat itu.  Bakso! (tawa).  Tetapi yang paling saya ingat adalah orang-orangnya – laki-laki dan perempuan tua yang menyambut kami dengan senyuman; anak-anak membuat seorang asing merasa bagai seorang tetangga; dan para sahabat dan guru yang membantu saya belajar mengenal negara ini.
Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa dan rakyat yang berasal dari banyak wilayah dan kelompok etnis, waktu yang saya lewatkan disini membantu saya menghargai kemanusiaan bersama dari semua rakyat. Dan meskipun ayah tiri saya, sebagaimana kebanyakan orang Indonesia, dibesarkan sebagai Muslim, ia secara kuat berpendapat bahwa semua agama haruslah dihormati.  Dan lewat cara ini -- (tepuk tangan) -- lewat cara ini, ia mencerminkan semangat toleransi keagamaan yang juga terbetik dalam UUD Indonesia, dan hal itu tetap merupakan ciri-ciri menentukan dan mengilhami dari negara ini.  (tepuk tangan).
Saya tinggal disini selama empat tahun –- suatu masa yang membantu membentuk masa kanak-kanak saya; suatu masa yang menyaksikan kelahiran adik perempuan saya yang cantik, Maya; dan suatu masa yang meninggalkan kesan sedemikian mendalamnya pada diri ibu saya sehingga ia selalu kembali ke Indonesia selama dua puluh tahun untuk tinggal, bekerja dan melakukan perjalanan –- memperjuangkan cita-citanya untuk menciptakan peluang di desa-desa Indonesia, khususnya untuk para perempuan dan gadis.  Dan saya merasa begitu dihormati – (tepuk tangan) – Saya merasa begitu dihormati ketika tadi malam Presiden Yudhoyono pada acara makan malam memberi sebuah hadiah penghormatan atas nama ibu saya, memberi pengakuan atas karyanya.  Dan ia pasti akan sangat bangga, karena ibu saya merasakan kedekatan dengan Indonesia dan rakyatnya sepanjang hidupnya. – (tepuk tangan).
Begitu banyak yang telah berubah dalam empat dekade sejak saya naik pesawat untuk kembali ke Hawaii. Kalau anda tanya saya – atau teman sekelas yang kenal dengan saya waktu itu – saya rasa tak seorang pun dari kami bisa mengantisipasi bahwa suatu hari saya kembali ke Jakarta sebagai Presiden Amerika Serikat. (tepuk tangan). Dan hanya sedikit yang bisa mengantisipasi kisah Indonesia yang luar biasa dalam empat dekade terakhir ini.
Jakarta yang saya pernah kenal kini tumbuh menjadi sebuah kota padat dengan penduduk hampir sepuluh juta, dengan pencakar langit yang membuat Hotel Indonesia tampak kecil, serta pusat-pusat budaya dan perdagangan yang hidup. Sementara teman-teman Indonesia saya dan saya dulu berlari-lari di sawah ditemani kerbau dan kambing – (tawa) --, sebuah generasi Indonesia yang baru kini terhubung dengan dunia - lewat telepon genggam dan jaringan sosial. Dan sementara Indonesia sebagai sebuah negara muda memusatkan perhatian ke dalam, Indonesia yang kini tumbuh memainkan peranan kunci di Asia Pasifik dan ekonomi global. – (tepuk tangan).
Perubahan ini juga meliputi politik. Ketika ayah tiri saya masih anak-anak, ia menyaksikan ayah dan kakaknya harus meninggalkan rumah mereka untuk berjuang dan gugur demi kemerdekaan Indonesia. Saya gembira berada di sini pada Hari Pahlawan guna menghormati begitu banyak orang Indonesia yang mengorbankan nyawa mereka untuk negara besar ini.  (tepuk tangan).
Ketika saya pindah ke Jakarta, waktu itu 1967, suatu masa yang menyusul penderitaan dan konflik besar di bagian-bagian tertentu dari negara ini. Meskipun ayah tiri saya berdinas di Militer, kekerasan dan pembunuhan selama masa pergolakan politik itu tidak saya ketahui karena hal itu tidak dibicarakan oleh keluarga dan teman-teman Indonesia saya. Dalam rumah saya, sebagaimana di banyak rumah lainnya di seluruh Indonesia, hal ini merupakan kehadiran yang tidak terlihat. Indonesia memiliki kemerdekaan, tetapi acapkali mereka takut untuk membicarakan isu-isunya.
Dalam tahun-tahun sesudah itu, Indonesia telah meniti jalannya sendiri lewat transformasi demokratis yang luar biasa –- dari pemerintahan tangan besi ke pemerintahan dari rakyat. Dalam tahun-tahun terakhir, dunia menyaksikan dengan harapan dan ketakjuban, ketika rakyat Indonesia merangkul peralihan kekuasaan secara damai dan memilih langsung para pemimpin mereka. Dan sebagaimana demokrasi anda dilambangkan oleh Presiden dan parlemen anda yang terpilih, demokrasi anda berkesinambungan dan diperkuat lewat pengecekan dan keseimbangan dari sistem demokrasi itu: sebuah masyarakat madani yang dinamis; partai-partai politik dan serikat-serikat; sebuah media yang hidup dan warganegara yang terlibat serta memastikan bahwa  - di Indonesia – tidak mungkin akan ada kembali ke masa lalu.
Namun sementara tempat tinggal masa muda saya ini telah mengalami begitu banyak perubahan, hal-hal yang membuat saya mencintai Indonesia -- semangat toleransi yang tertulis dalam UUD anda; dan dilambangkan dengan mesjid-mesjid, gereja-gereja dan kuil-kuil anda, yang berdiri berdampingan satu sama lainnya; semangat yang tercermin dalam diri rakyat anda - masih terus hidup. (tepuk tangan).  Bhineka Tunggal Ika  - persatuan dalam keragaman. (tepuk tangan).  Ini merupakan dasar dari contoh Indonesia kepada dunia dan inilah mengapa Indonesia akan memainkan peranan sedemikian pentingnya dalam abad ke 21.
Jadi hari ini, saya kembali ke Indonesia sebagai sahabat, juga sebagai Presiden yang mengusahakan sebuah kemitraan yang dalam dan langgeng di antara kedua negara kita.  (tepuk tangan).  Karena sebagai negara yang besar dan beragam; sebagai tetangga pada kedua tepian Pasifik  dan terutama sebagai demokrasi -- Amerika Serikat dan Indonesia sama-sama terikat oleh kepentingan dan nilai-nilai bersama.
Kemarin, Presiden Yudhoyono dan saya mengumumkan sebuah Kemitraan Komprehensif yang baru antara Amerika Serikat dan Indonesia. Kami meningkatkan hubungan antara kedua pemerintahan di berbagai bidang, dan –- juga sama pentingnya –- kami meningkatkan hubungan di kalangan rakyat kita. Ini merupakan kemitraan yang setara, berakar pada kepentingan bersama dan saling menghormati.
Dengan sisa waktu hari ini, saya ingin membahas mengapa kisah yang saya baru ceritakan -- kisah Indonesia sejak masa-masa saya tinggal di sini -- sedemikian pentingnya untuk Amerika Serikat dan dunia. Saya fokuskan pada tiga bidang yang saling terkait dan mendasar bagi kemajuan manusia -- pembangunan, demokrasi dan agama.
Pertama, persahabatan antara Amerika Serikat dan Indonesia bisa memajukan kepentingan bersama kita dalam pembangunan.
Ketika saya pindah ke Indonesia, sulit membayangkan sebuah masa depan di mana kemakmuran keluarga di Chicago dan Jakarta akan terkait. Tetapi ekonomi-ekonomi kita sekarang global, dan penduduk Indonesia telah mengalami baik potensi maupun ancaman dari globalisasi: dari goncangan akibat krisis financial Asia pada tahun 90an sampai ke jutaan penduduk yang berhasil keluar dari kemiskinan. Itu berarti –- dan kita belajar dari krisis ekonomi baru-baru ini – kita punya taruhan dalam sukses masing-masing.
Amerika punya taruhan dalam Indonesia yang tumbuh, dengan kemakmuran yang terbagi secara luas dikalangan rakyat Indonesia -- karena sebuah kelas menengah yang meningkat disini berarti pasar baru bagi barang-barang kami, sebagaimana Amerika menjadi pasar untuk barang-barang anda. Jadi kami melakukan lebih banyak investasi di Indonesia, ekspor kami tumbuh hampir 50 persen dan kami membuka pintu untuk orang Amerika dan Indonesia guna berbisnis satu sama lainnya.
Amerika punya taruhan dalam sebuah Indonesia yang memainkan perannya yang tepat dalam membentuk ekonomi global. Lewat sudah masa-masa di mana tujuh atau delapan negara secara bersama-sama menentukan arah dari pasar global. Itulah sebabnya G-20 kini menjadi pusat kerjasama ekonomi internasional, sehingga ekonomi yang baru muncul seperti Indonesia punya suara yang lebih besar dan menanggung tanggung jawab lebih besar. Dan lewat kepemimpinannya dalam kelompok anti-korupsi G-20, Indonesia harus memimpin di panggung dunia serta menjadi panutan dalam merangkul transparansi dan akuntabilitas. (tepuk tangan).
Amerika memiliki taruhan dalam sebuah Indonesia yang memperjuangkan pembangunan berkesinambungan, karena cara kita tumbuh akan menentukan kualitas kehidupan kita dan kesehatan planet kita. Itulah sebabnya kami mengembangkan teknologi energi bersih yang bisa menggerakkan industri dan melestarikan sumber daya alam Indonesia yang berharga –- dan Amerika menyambut gembira kepemimpinan negara anda dalam usaha global untuk memerangi perubahan iklim.
Di atas segala-galanya, Amerika punya taruhan dalam sukses rakyat Indonesia. Di bawah kepala-kepala berita harian, kita harus membangun jembatan antara rakyat kita karena kita memiliki keamanan dan kemakmuran masa depan secara bersama. Itulah sebenarnya yang sedang kita lakukan –- lewat peningkatan kerjasama diantara ilmuwan dan peneliti kita dan dengan bekerja bersama-sama untuk memupuk kewirausahaan. Dan saya khususnya gembira bahwa kita berkomitmen untuk melipatgandakan jumlah pertukaran mahasiswa Amerika dan Indonesia yang akan belajar di negara kita masing-masing –- (tepuk tangan). Kami ingin lebih banyak mahasiswa Indonesia di sekolah-sekolah kami, dan lebih banyak mahasiswa Amerika datang belajar di negara ini (tepuk tangan).  Kami ingin memupuk hubungan baru dan saling pengertian yang lebih mendalam diantara warga muda dalam abad yang masih muda ini.
Ini semuanya merupakan isu-isu yang benar-benar bermakna dalam kehidupan sehari-hari kita. Pembangunan, pada akhirnya, tidak sekadar berkaitan dengan tingkat pertumbuhan serta angka-angka dalam sebuah neraca. Pembangunan berkenaan dengan seorang anak yang bisa belajar ketrampilan yang dibutuhkannya dalam dunia yang sedang berubah. Pembangunan berkenaan dengan sebuah ide bagus yang diberi peluang untuk tumbuh menjadi sebuah bisnis dan tidak dicekik oleh korupsi. Pembangunan berkenaan dengan kekuatan-kekuatan yang telah berhasil mentransformasi Jakarta yang pernah saya kenal –- teknologi, perdagangan, aliran manusia dan barang -- yang diterjemahkan kedalam sebuah kehidupan yang lebih baik untuk semua warga Indonesia, untuk semua manusia,  sebuah kehidupan yang ditandai oleh harga diri dan kesempatan.
Pembangunan seperti ini tidak bisa dipisahkan dari peran demokrasi.
Saat ini kita kadang kala mendengar bahwa demokrasi menghalangi kemajuan ekonomi. Ini bukan argumen baru. Khususnya di saat perubahan dan ketidakpastian ekonomi, sebagian pihak akan mengatakan bahwa lebih mudah untuk mengambil jalan pintas menuju pembangunan dengan menukar hak azasi manusia dengan kekuasaan negara.  Tetapi itu bukan yang saya lihat dari kunjungan saya ke India, dan itu bukan pula yang saya lihat di sini di Indonesia. Pencapaian-pencapaian anda menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan saling memperkuat satu sama lain.
Seperti demokrasi mana pun, anda pernah mengalami langkah mundur dalam perjalanan anda. Amerika juga tidak berbeda. Konstitusi kami sendiri menyebutkan upaya untuk membentuk “sebuah persatuan yang lebih sempurna”, dan itu adalah perjalanan yang telah kami tempuh sejak itu. Kami mengalami Perang Saudara dan kami berjuang untuk memperluas hak-hak bagi semua warga negara kami. Tapi upaya ini pula yang telah membuat kami lebih kuat dan lebih makmur, selagi juga menjadi masyarakat yang lebih adil dan bebas.
Seperti negara-negara lain yang pernah dijajah pemerintah kolonial di abad lalu, Indonesia telah berjuang dan berkorban demi hak untuk menentukan nasib sendiri. Inilah makna Hari Pahlawan – sebuah Indonesia yang merupakan milik warga Indonesia. Tapi anda juga pada akhirnya memutuskan bahwa kebebasan tidak berarti menggantikan tangan besi pemerintah kolonial dengan tangan besi sendiri.
Tentu saja demokrasi itu tidaklah rapi. Tidak semua orang menyukai hasil setiap pemilihan. Anda mengalami kemajuan dan kemunduran. Tetapi perjalanan yang anda tempuh ini tetap layak, dan lebih dari sekadar mengisi kotak suara dalam pemilihan. Perlu ada lembaga kuat untuk mengawasi kekuasaan --  konsentrasi kekuasaan. Perlu ada pasar-pasar terbuka guna memungkinkan individu-individu untuk maju. Perlu ada pers bebas dan sistem keadilan yang independen untuk menghapus penyalahgunaan dan ekses, serta untuk menagih akuntabilitas. Perlu ada masyarakat yang terbuka dan warga negara yang aktif untuk menolak ketimpangan dan ketidakadilan.
Ini adalah kekuatan-kekuatan yang akan memajukan Indonesia. Dan akan harus ada penolakan terhadap toleransi pada korupsi yang menghalangi kesempatan; juga komitmen terhadap transparansi yang memberi setiap warga Indonesia kepentingan dalam pemerintahan; dan keyakinan bahwa kebebasan rakyat Indonesia --  yang telah diperjuangkan rakyat Indonesia adalah hal yang mempersatukan negara besar ini.
Itulah pesan dari rakyat Indonesia yang telah memajukan kisah demokratis ini – mulai dari mereka yang bertarung dalam Perang Surabaya tepat 55 tahun lalu hari ini hingga para mahasiswa yang berdemo secara damai untuk demokrasi di tahun 1990-an; juga para pemimpin yang telah merangkul transisi kekuasaan secara damai di abad yang masih muda ini. Karena pada akhirnya, hak warga negaralah yang akan menyatukan Nusantara yang luar biasa dan menjangkau dari Sabang hingga Merauke ini – sebuah ketetapan hati – (tepuk tangan) – sebuah ketetapan hati agar setiap anak yang lahir di negara ini akan diperlakukan sama, terlepas dari asal-usulnya apakah dari Jawa atau Aceh; dari Bali atau Papua. (Tepuk tangan). Bahwa semua orang Indonesia memiliki hak yang sama.
Upaya tersebut terlihat pula dari contoh yang kini ditunjukkan Indonesia di luar negeri. Indonesia mengambil inisiatif untuk mendirikan Forum Demokrasi Bali, sebuah forum terbuka bagi negara-negara untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik untuk memupuk demokrasi. Indonesia juga telah berada di garda depan dalam upaya menuntut perhatian lebih banyak terhadap HAM di ASEAN. Negara-negara di Asia Tenggara harus memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri, dan Amerika Serikat sangat menduku

Sent from my BlackBerry®powered by Sinyal Kuat INDOSAT

AUSTRALIANS want to go back to the polls - sooner rather than later

AUSTRALIANS want to go back to the polls - sooner rather than later, a
social trends report has found.

The report found that a surprising amount of voters have serious
concerns about the stability of the new government and are in favour
of another election, even if it meant another campaign and more cost
to the taxpayer.

Adding to Julia Gillard's woes is the fact that many voters are deeply
uncomfortable about how she became Prime Minister.

The Ipsos Mackay Mind and Mood October report, which measures
Australian attitudes to a wide range of subjects through extensive
group surveys, said that the ousting of Kevin Rudd was still an issue
for voters.

The report is based on group discussions conducted in Sydney,
Melbourne, Brisbane, Adelaide, Bendigo and Townsville in September
2010.

Ipsos Mackay Chief researcher Rebecca Huntley said: "For those who
believed Gillard instigated the coup, she was viewed as disloyal and
power hungry.

"For those who believed she was merely a puppet of the ALP's faceless
men, they were disappointed she didn't show greater strength and
independence."

Many voters feel uneasy the new government did not win a majority.

"The new paradigm of politics was causing new anxieties for many. One
major concern voiced was that the situation was too precarious, with
even a minor event sending us back to the polls sooner rather than
later," the report said.

"As one voter put it, 'The sooner something gets sorted out in another
election the better. At least we will get something that is
definite'," Ms Huntley said.

"Another voter… felt insecure about a government 'elected by only half
the population. I know it costs money to go back to the polls but I
think we should do it,' she said."

Many of those surveyed seemed to feel Ms Gillard stood for nothing, or
very little other than holding onto power.

This is a dramatic shift in opinion from just six months before when
the Mind and Mood April survey found consumers held mainly positive
attitudes towards the then Deputy Prime Minister.

"In our April Mind & Mood, consumers seemed to hold great expectations
for Julia Gillard. They saw her claims to the top job as legitimate,"
Ms Huntley said.

A convincing win at the ballot might have changed the sense of unease
about how she became Prime Minister before the election, but Labor's
lacklustre result and the drawn out negotiations with the Independents
have left voters with political fatigue and an overwhelming desire for
politicians to "just get on with it".

"Certainly the drawn out reasoning of the Independents and Mr
Oakeshott's famous 17-minute speech had worn their patience thin," Ms
Huntley said.

The report said that once the decision on forming government was made,
consumers were quick to turn their attentions elsewhere.

The overwhelming mood amongst the participants when politics was
raised in discussion was anger, cynicism and frustration with the
two-party system.

"They have serious problems with the two-party system (specifically
the perceived lack of difference between the two major parties) and
the apparent inability of our political leaders to think and act
long-term for the benefit of the nation," the report said.

While the spectacular success of the Greens and their elevation to
centre stage was mentioned by many, the report found more wanted to
discuss the role played by the Independents.

"Despite the concerns about the sudden power of the Independents,
consumers recognised that if you were lucky enough to live in one of
their electorates, you were likely to be better looked after by
government at least until the next Federal Election."

According to Ms Huntley, the test for the Gillard Government is
whether it can disprove criticisms that it is weak and plagued by
infighting, and can drive it's own legislative agenda on broadband, a
carbon tax and asylum seekers.

"It all amounts to a somewhat tentative hold on power," she said.

"And yet the way she manages the job now, her proven capacity to
negotiate and communicate outcomes may well give her leadership the
solid foundations it needs."

Other key findings included:

- Despite political pessimism Australians are more confident about the
economy and their future prosperity.

- Increased sense of job security and a general feeling that the
rewards from employment were increasing

- Lingering anxiety about immigration, in particular Muslim immigration

- Fears about scarcity of resources, water in particular and the cost
of energy. Also concerned about the lack of forward planning by
governments in this area.

- Rising concerns about health and ageing, with an increased focus on
preventative health

- Increased awareness of damaging effects of alcohol

- Increased optimism about the economy did not alleviate the pressures
of modern life with many planning holiday escapes, parties or even
researching family history.

- Love affair with sport still strong but many are increasingly
concerned about sports players behaving badly e.g. Stephanie Rice, Ben
Cousins and an assortment of Football stars


Read more: http://www.news.com.au/national/australians-want-a-new-election-now/story-e6frfkvr-1225946955150#ixzz15OAnPF4y

Sunday, November 14, 2010

Texting bans

Texting bans may add risk to roads - USATODAY.com
Laws banning texting while driving actually may prompt a slight increase in road crashes, research out today shows.

The findings, to be unveiled at a meeting here of 550 traffic safety professionals from around the USA, come amid a heightened national debate over distracted driving.

"Texting bans haven't reduced crashes at all," says Adrian Lund, president of the Insurance Institute for Highway Safety, whose research arm studied the effectiveness of the laws.

ROAD RISKS: Teens missing message on texting
DISTRACTED DRIVING: Other culprits get scant attention

Thirty states and the District of Columbia ban texting while driving; 11 of the laws were passed this year. The assertion that those efforts are futile will be a major issue at this week's annual meeting here of the Governors Highway Safety Association (GHSA).

Researchers at the Highway Loss Data Institute compared rates of collision insurance claims in four states — California, Louisiana, Minnesota and Washington — before and after they enacted texting bans. Crash rates rose in three of the states after bans were enacted.

The Highway Loss group theorizes that drivers try to evade police by lowering their phones when texting, increasing the risk by taking their eyes even further from the road and for a longer time.

The findings "call into question the way policymakers are trying to address the problem of distracted-driving crashes," Lund says, calling for a strategy that goes beyond cellphones to hit other behaviors such as eating and putting on makeup. "They're focusing on a single manifestation of distracted driving and banning it," he says.

Transportation Secretary Ray LaHood, disputes the findings. "Between 2005 and 2008, distracted driving-related fatalities jumped from 10% to 16% of all traffic fatalities," he says. "In 2009, for the first time in four years, distracted driving fatalities stopped rising, remaining at 16%. ... Tough laws are the first step and enforcement must be next. We know that anti-distracted-driving laws can be enforced effectively."

Last year in the USA, 5,474 people were killed and another 448,000 injured in crashes involving distracted driving, defined as operating a vehicle in a careless or inattentive manner, the government says.

Lack of enforcement is a likely factor if bans are ineffective, GHSA spokesman Jonathan Adkins says.


Saturday, November 13, 2010

jangan remehkan batuk!

Awas Musim Batuk! - Printable Version
Oleh : dr. Dissy Pramudita

Klikdokter.com – Musim pancaroba tengah berlangsung. Kondisi iklim dan suhu tak menentu membuat bakteri maupun virus penyakit semakin mudah berkembang. Tidak sedikit kondisi fisik masyarakat mengalami gangguan sepele tak sepele, batuk.

Batuk merupakan salah satu dari 5 alasan tersering seseorang berobat ke dokter. Dengan banyaknya pilihan obat batuk di pasaran, sebagian besar orang telah mencoba untuk mengatasi sendiri keluhan batuknya.

Sebagian jenis batuk dapat diatasi hanya dengan menggunakan obat batuk yang dijual dipasaran, namun pada sebagian kasus lainnya batuk ini dapat terus berlanjut dan tidak kunjung membaik.

Batuk yang terus berlanjut selama beberapa minggu dapat terjadi akibat batuk yang membandel ataupun akibat suatu penyakit lain yang lebih serius dan memerlukan pengobatan khusus. Batuk yang berlangsung selama lebih dari 14 hari atau terjadi dalam 3 episode selama 3 bulan beturut-turut disebut sebagai sebagai batuk kronik atau batuk kronik berulang.

Batuk kronik tidak boleh dianggap sepele. Terdapat beberapa jenis penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya batuk kronik, antara lain asma dan alergi, infeksi saluran napas, TB paru, gastroesophageal reflux disease (GERD), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK ) yang terutama menyerang perokok, dll. Umumnya sulit bagi seseorang untuk mengetahui penyebab batuk kronis yang dialami dirinya.

Selama ini, hanya dokter yang dapat memberikan informasi apa yang menjadi penyebab batuk yang dialami seseorang. Melalui artikel ini, Kami akan ulas beberapa hal yang dapat menyebabkan batuk kronis, sehingga Anda dapat mengetahui langkah apa yang harus dilakukan dalam menghadapi batuk kronis.
[Image: batuk%20paru.jpg]
1. TB Paru
Batuk berdahak yang berlangsung selama 3 minggu atau lebih dapat terjadi akibat infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis dalam paru. Penyakit ini dikenal dengan nama TB paru (TBC). Penyakit ini merupakan penyebab kematian akibat infeksi nomor 1 di Indonesia. Jumlah penderita TBC di Indonesia sangat banyak, diperkirakan diantara 100.000 penduduk indonesia terdapat 130 penderita TBC.

Batuk kronik yang terjadi karena TB paru biasanya disertai dengan keluhan lain berupa sesak napas atau nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, demam meriang lebih dari sebulan, berkeringat malam walau tanpa kegiatan, dan batuk darah atau adanya dahak yang bercampur darah.

Penderita batuk kronik dengan gejala menyerupai TB paru sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan diangosis TB paru, antara lain pemeriksaan dahak atau pemeriksaan foto rontgen dada.

Penyakit ini dapat disembuhkan dengan pemberian obat TB secara terus menerus selama 6 bulan. Pengobatan secara dini dapat mencegah terjadinya komplikasi penyakit yang lebih berbahaya.

2. Asma dan Alergi
Asma merupakan suatu inflamasi (peradangan) kronik pada saluran napas, sehingga saluran napas cenderung membengkak dan menyempit. Akibat terjadinya penyempitan saluran napas, napas akan terasa sesak dan terdengar suara mengi saat bernapas.

Disamping itu, batuk juga dapat merupakan salah satu gejala asma. Batuk pada penderita asma terutama akan memberat pada malam atau dini hari. Serangan asma berlangsung secara periodik. Di luar serangan, penderita asma dapat tidak merasakan keluhan apa-apa.

Asma dapat menyerang berbagai usia, namun lebih sering terjadi pada anak-anak. Pemicu serangan asma dapat berbeda-beda pada setiap orang, antara lain dapat berupa aktifitas fisik yang berlebihan, udara dingin, asap rokok, beberapa jenis makanan, dll.

Keluhan batuk diduga disebabkan oleh asma atau alergi jika hanya timbul pada saat tertentu saja, dengan pemicu yang sama setiap kambuh. Batuk dapat berhenti dengan sendirinya jika pemicu tersebut dihindari. Jika Anda tetap belum yakin apa yang menjadi pemicu terjadinya batuk alergi pada diri Anda, Anda dapat meminta dokter untuk melakukan suatu pemeriksaan uji cukit kulit (skin test) untuk mengetahui sumber penyebab alergi pada diri anda.

3. Infeksi Saluran Napas
Batuk merupakan salah satu gejala tersering yang timbul akibat infeksi saluran napas. Infeksi saluran napas dapat disebabkan oleh bakteri, virus ataupun jamur.

Salah satu infeksi saluran napas yang paling sering terjadi adalah sakit flu (common cold) yang terjadi akibat infeksi virus. Disamping batuk, gejala lain yang dapat menyertai flu antara lain hindung tersumbat dan demam. Umumnya keluhan pada penyakit ini bersifat akut (hanya terjadi dalam beberapa hari) dan dapat sembuh sendiri dengan beristirahat.

Namun, keluhan batuk dapat bertahan lebih lama di dalam tubuh dibandingkan keluhan lainnya. Hal ini dapat terjadi karena saluran udara yang masih sensitif dan meradang paska infeksi.

Disamping sakit flu, terdapat suatu infeksi saluran napas yang lebih berbahaya, yang dikenal dengan nama pneumonia. Pneumonia dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, mikoplasma, jamur, dll.

Pada pneumonia, batuk yang terjadi akan disertai dengan pengeluaran lendir berwarna kehijauan. Disamping itu, gejala lain dari pneumonia adalah demam tinggi, menggigil, nyeri dada, badan terasa lemas, lelah dan mual. Pnemonia juga merupakan suatu penyakit paru yang bersifat akut dan dapat disembuhkan dengan antibiotik dalam waktu 2 atau 3 minggu.

Seperti halnya pada penyakit flu, meskipun pneumonia merupakan penyakit yang akut, namu keluhan batuk pada pneumonia dapat berjalan kronis dan bertahan lebih lama dibandingkan keluhan lainnya.


bersambung


RE: Awas Musim Batuk! - Bank Jack - 22 Mar 2010 14:44

4. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
PPOK merupakan suatu penyakit paru kronis yang ditandai dengan adanya keterbatasan aliran udara di saluran napas dan biasanya disebabkan oleh proses peradangan paru akibat pajanan gas berbahaya (misal rokok, asap polusi dari pembakaran, dll).

Kerusakan jaringan paru akibat PPOK dapat menyebabkan timbulnya kesulitan dalam mengeluarkan udara dari dalam paru, sehingga membuat penderita PPOK merasa bahwa napasnya pendek.

Penyakit ini seringkali terjadi pada usia diatas 45 tahun, terutama mengenai perokok. Pada PPOK, paru akan memproduksi banyak lendir (mukus), sehingga tubuh akan secara refleks berusaha untuk mengeluarkan lendir tersebut dengan batuk.

Dokter baru akan memeriksa ke arah PPOK pada penderita dengan faktor risiko (seperti merokok) setelah mengesampingkan penyebab-penyebab batuk yang lebih umum. Untuk memastikan diagnosis PPOK, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, salah satunya adalah spirometri, yaitu suatu pemeriksaan dimana dokter akan meminta anda untuk menarik napas sedalam-dalamnya sesuai kemampuan anda dan kemudian hembuskan udara napas tersebut ke dalam suatu tabung pemeriksaan.

5. Polusi Udara
Berbagai polutan dan iritan di udara dapat menyebabkan batuk yang terus menerus. Bahkan paparan singkat terhadap asap (seperti asap knalpot mesin diesel) dapat mengakibatkan batuk, dahak, dan iritasi paru.

Asap juga dapat memperburuk gejala asma atau alergi. Disamping itu, udara yang mengandung spora jamur yang ditemukan di dalam dan di sekitar rumah juga dapat menyebabkan mengi dan batuk saat menghirupnya.

[Image: batuk%20pernapasan.jpg]
6. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)
GERD merupakan suatu kelainan pada lambung dan kerongkongan (esofagus) yang terjadi akibat asam lambung naik ke kerongkongan. Hal ini terjadi akibat lemahnya katup yang terdapat antara kerongkongan dan lambung. Gejala utama GERD adalah adanya sensasi dada terasa terbakar.

Namun, batuk dapat merupakan gejala lain yang timbul akibat GERD. Disamping itu, GERD dapat juga disertai oleh timbulnya keluhan nyeri pada ulu hati, mual, kembung, dan timbul suara mengi saat bernapas.

Sebenarnya GERD merupakan suatu kelainan yang sering menyebabkan terjadinya batuk kronik, namun jarang disadari oleh dokter dan penderitanya. Keluhan GERD dapat diatasi dengan pemberian obat pengontrol asam lambung.

Dokter dapat mendiagnosis GERD melalui pemeriksaan endoskopi, yaitu suatu teknik pemeriksaan struktur dalam tubuh dengan menggunakan alat berbentuk tabung yang disebut endoskop. Endoskop akan dimasukkan ke dalam kerongkongan untuk melihat adanya kerusakan pada kerongkongan.