Instagram

Translate

Monday, November 08, 2010

Teliti Kembali Asuransi Anda

detik Finance :
Indonesia adalah merupakan negara yang terletak pada bagian yang menjadi pusat gempa dunia, fakta yang ada gempa sering terjadi dan mungkin dapat terjadi lagi, gempa terakhir (semoga benar adanya) ketika hari Jumat yang lalu gedung di Jakarta terasa bergoyang disebabkan karena gempa yang berkekuatan 6,4 skala richter, sebelumnya juga ada gempa di Padang, di Tasikmalaya dll.

Lalu permasalahannya adalah bagaimana kita sebagai manusia dewasa mampu untuk melakukan manajemen resiko khususnya melakukan antisipasi kepada keluarga yang kita cintai atas kemungkinan terburuk saat kita meninggal akibat terjadinya gempa atau bencana alam lainya? Dapatkah orang yang kita kasihi mampu bertahan dengan kondisi keuangan yang cukup? Sementara sumber penghasilan berhenti akibat bencana yang merenggut nyawa.

Pembaca yang bijak sebagian cara dalam melakukan manajemen resiko adalah melakukan transfer resiko kepada perusahaan asuransi, dalam hal kematian tentu kita dapat melakukan transfer resiko kepada perusahaan asuransi jiwa. Namun alangkah baiknya bagi mereka yang telah memiliki asuransi jiwa dimohon untuk meneliti kembali polis asuransi jiwa yang dimilikinya, serta bagi yang belum memiliki asuransi jiwa penjelasan dibawah ini mungkin dapat membantu anda untuk dapat memilih produk asuransi yang paling tepat.

Sebuah kontrak asuransi jiwa adalah kontrak antara penanggung (perusahaan asuransi) dengan tertanggung (nasabah), namun dalam kontrak khususnya asuransi jiwa dikenal dengan istilah Kontrak Adhesi yakni sebuah kontrak yang dibuat oleh satu pihak dan ditawarkan atas pilihan take it or leave it sehingga pihak yang lain (nasabah) hanya diberi ruang yang sangat kecil untuk melakukan tawar menawar atas manfaat yang ada dalam kontrak tersebut. Berkenaan dengan masalah kontrak tersebut maka sudah selayaknya nasabah meneliti kembali isi kontrak asuransi yang tertera dalam sebuah polis dengan tujuan agar orang yang kita cintai dapat menerima manfaat sesuai dengan nilai yang tertera pada polis asuransi tersebut.

Pembaca, ada beberapa klausul yang memerlukan 'perhatian khusus' dari pemegang polis hal ini disebabkan karena dapat menimbulkan hal yang bersifat ambigu (dapat ditafsirkan menjadi beberapa arti) dan lebih jauh lagi kami menyebutnya sebagai 'grey area' atau area yang tidak jelas dari sudut pandang nasabah. Berikiut adalah sebagian kecil dari contoh klausul yang tertera dalam kontrak polis asuransi jiwa:

1.Pengecualian

Dalam polis asuransi jiwa tertera pasal yang menyatakan ’Pengecualian’ alangkah baiknya kita teliti kembali pasal tersebut, banyak perusahaan asuransi menyatakan bahwa bencana alam merupakan salah satu alasan untuk tidak membayar manfaat bagi tertanggung.

Ini berarti jika tertanggung meninggal dunia karena menjadi korban gempa (seperti kasus gempa di Padang yang baru lalu) maka sesuai dengan kontrak asuransi dapat dipastikan keluarga yang ditinggalkan tidak akan menerima manfaat yang berupa uang pertanggungan.

Memang dalam kontrak tersebut dinyatakan "Bencana alam yang dinyatakan oleh pemerintah Indonesia", sejujurnya arti kalimat ini sangat tidak jelas, ini merupakan 'grey area' atau dapat disebut area yang dapat diartikan dengan 'ya' atau 'tidak', hal ini tergantung kondisi, jadi sebagai tertanggung atau pemegang polis berhak untuk menanyakan hal ini kepada penanggung (perusahaan asuransi). Saran kami alangkah baiknya jika hendak memilih perusahaan asuransi jiwa silahkan pilih perusahaan yang tidak mencantumkan klausul bencana alam tersebut.

2.Pembebasan Pembayaran Premi

Dalam hal jenis manfaat yang akan diterima ada beberapa manfaat tambahan berupa pembebasan pembayaran premi jika ternyata pemegang polis, pembayar dan atau 'tertanggung' tidak dapat memiliki penghasilan baik disebabkan karena sakit maupun karena mengalami kecelakaan.

Namun biasanya manfaat ini baru dapat dilakukan jika telah dapat dibuktikan secara terus menerus sekurangya dalam waktu 3 bulan (90 hari) dan bahkan ada perusahaan asuransi jiwa yang mensyaratkan pembuktian sekurang kurangnya selama 6 bulan (180 hari).

Menurut kami ini juga merupaka 'grey area' karena selama periode persyaratan pembuktian minimal 3 atau 6 bulan mewajibkan pemegang polis (pembayar) untuk membayar sejumlah premi tertentu selama kurun waktu minimal tersebut, jika ini dilaksanakan maka perusahaan asuransi menyatakan pemegang polis (pembayar) dinyatakan terbukti berpenghasilan maka manfaat Pembebasan Premi secara otomatis tidak dapat berfungsi, sedang jika pemegang polis (pembayar)tidak membayar premi maka secara otomatis polis akan tidak berlaku.

Dari kedua contoh diatas semoga dapat menjelaskan sebagian dari isi kontrak yang bersifat ambigu, karena itu sebagai pihak nasabah sudah sewajarnya untuk melakukan review atas isi kontrak polis asuransi jiwa. Hal ini tentu bertujuan agar anggota keluarga yang kita cintai dapat menerima manfaat sesuai dengan yang tertera di dalam polis, jangan sampai karena kecerobohan kita manfaat tersebut tidak dapat diterima oleh keluarga.

Pembaca yang budiman, asuransi jiwa adalah suatu keharusan agar resiko kerugian finansial dapat dieliminasi namun membaca dan mengerti isi kontrak adalah suatu kebutuhan dasar. Demikian semoga bermanfaat, selamat memilih dan meneliti kembali asuransi jiwa anda.

Taufik Gumulya CFP ®, Perencana Keuangan pada TG


Uang Pertanggungan Asuransi : Jangan Beli Produk Unit Link

Dalam melakukan perencanaan keuangan, seseorang dihadapkan dengan keharusan untuk melakukan perlindungan aset yang dimiliki dan kita semua sepakat bahwa aset yang sangat berharga dan tidak dapat ternilai dengan uang adalah kehidupan atau jiwa seorang manusia.

Selanjutnya dapatkah kita menghitung dengan benar uang pertanggungan asuransi jiwa dengan tepat? Sehingga jika terjadi risiko meninggal maka kita dapat meninggalkan warisan berupa uang pertanggungan yang layak kepada mereka yang kita tinggalkan.

Pembaca yang bijak, sebelum kita membahas metoda perhitungan uang pertanggungan asuransi jiwa, ada baiknya kita perhatikan bahwa dasar untuk menghitung besarnya uang pertanggungan adalah berdasarkan perhitungan 'nilai ekonomis' dari yang bersangkutan. Nilai ekonomis yang dimaksud adalah besarnya pendapatan atau income rata-rata perbulan pada saat ini. Jadi jika seseorang mengalami peningkatan pendapatan maka sudah selayaknya besar uang pertanggunganpun ditambah.
 
Metoda perhitungan uang pertanggungan ada bermacam-macam, namun pada umumnya kami membagi menjadi 3 (tiga) kelompok metoda perhitungan, yakni:

1.Metoda Human Life Value: pada metoda ini uang pertanggungan mutlak dihitung berdasarkan income bulanan dikali dengan lama dana tersedia untuk menopang hidup, tanpa memperhatikan faktor bunga maupun pertumbuhan dana jika uang pertanggungan disimpan dalam produk perbankan.

2.Metoda Income Based Value: metoda ini menghitung uang pertanggungan dengan memperhitungkan besarnya bunga atau return jika uang pertanggungan yang diterima disimpan dalam produk perbankan.

3.Metoda Financial Needs Based Value: besar uang pertanggungan memiliki kisaran minimal sama dengan besarnya uang kebutuhan tertentu saat ini (present value) dikali dengan 150%. Sedangkan uang pertanggungan maksimal adalah sebesar  uang dimasa mendatang (future value) dikali dengan 80%.

Metoda ini mutlak dikombinasikan dengan investasi yang dilakukan (baik secara bulanan atau tahunan) untuk mencapai kebutuhan keuangan dimasa mendatang (future value) dari kebutuhan keuangan tersebut. Metoda ini juga dapat dipakai bagi mereka yang sudah memiliki penghasilan bulanan yang sangat besar sehingga kedua metoda lain yang disebut diatas tidak mungkin digunakan lagi karena akan memberikan jumlah uang pertanggungan yang terlalu besar (kecil kemungkinan uang pertanggungan disetujui oleh perusahaan asuransi).

Untuk lebih jelasnya marilah kita simak contoh kasus berikut:

Seorang bapak usia 30 tahun memiliki penghasilan perbulan sebesar Rp 5.000.000,-. Sang bapak memiliki istri dan seorang anak yang berusia 0 tahun (baru lahir). Sang bapak ingin menyekolahkan anaknya di universitas yang terbaik di Indonesia.

Menurut perhitungannya biaya kuliah saat ini selama 4 tahun sudah termasuk biaya pendaftaran dan biaya belajar mengajar, SKS dan sebagainya diluar biaya buku dan transpor adalah sebesar Rp 80.000.000,- (delapan puluh juta rupiah), dengan memperhatikan faktor kenaikan biaya pendidikan sebesar 18% pertahun, selama 18 tahun biaya tersebut membengkak menjadi Rp 1.573.860.075,- (satu milyar lima ratus tujuh puluh tiga juta delapan ratus enam puluh ribu tujuh puluh lima rupiah). Untuk melindungi keluarga maka besarnya UP (uang pertanggungan)  asuransi jiwa yang layak bagi bapak tersebut adalah sebesar:

a. Jika menggunakan metoda Human Life Value:  maka UP adalah sebesar Rp 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah), mampu menopang kehidupan keluarga selama maksimal 10 tahun.

b. Jika menggunakan metoda Income Based Value: maka UP adalah sebesar Rp 1.200.000.000,- (satu milyar dua ratus juta rupiah), dengan memperhitungkan bunga sebesar 5% pertahun jika UP tersebut disimpan dalam produk perbankan, maka hasil bunga sebesar Rp 5.000.000,-. Dapat digunakan untuk menopang kehidupan keluarga.

c. Jika menggunakan metoda Financial Needs Based Value: maka UP yang layak (atas kebutuhan perencanaan pendidikan anak) adalah sebesar Rp 120.000.000,- (seratus dua puluh juta rupiah) hingga Rp 1.260.000.000,- (satu milyar dua ratus enam puluh juta rupiah).

Selanjutnya adalah  bagaimana cara yang terbaik untuk memilih produk asuransi jiwa yang paling sesuai? Dalam hal pemilihan produk tentu kita akan memilih produk yang paling optimal, dalam hal kasus diatas tentunya kita harus mengetahui kisaran premi untuk masing-masing UP yang ada sehingga kita mendapatkan manfaat yang terbaik yakni UP yang tinggi namum dengan pembayaran premi minimal.

Berikut ini ingin kami sampaikan tabel kisaran premi pertahun atau perbulan pada contoh kasus diatas (untuk laki-laki Indonesia dengan kondisi kesehatan, tinggi dan berat badan normal):

Tabel untuk usia 30 tahun
Uang Pertanggungan (UP) Premi minimum (per tahun) Premi maksimum (per tahun) Premi Minimum (per bulan) Premi maksimum (per bulan)
Rp       120.000.000 Rp 163.200 Rp 440.640 Rp 13.600 Rp 36.720
Rp       600.000.000 Rp 816.000 Rp 2.203.200 Rp 68.000 Rp 183.600
Rp     1.200.000.000 Rp 1.632.000 Rp 4.406.400
Rp 136.000
Rp 367.200
Rp     1.260.000.000 Rp 1.713.600 Rp 4.626.720 Rp 142.800 Rp 385.560

Tabel untuk usia 35 tahun
Uang Pertanggungan (UP) Premim Minimum (per tahun) Premim Maksimum (per tahun) Premi Minimum (per bulan Premi Maksimum (per bulan
Rp       120.000.000 Rp 195.000 Rp 526.500 Rp 16.250 Rp 43.875
Rp       600.000.000
Rp 975.000
Rp 2.632.500 Rp 81.250 Rp 219.275
Rp     1.200.000.000 Rp 1.950.000 Rp 5.265.000 Rp 162.500 Rp 438.750
Rp     1.260.000.000 Rp 2.047.500 Rp 5.528.250 Rp 170.625
Rp 460.688
Sebagai informasi kisaran premi yang kami sampaikan diatas adalah kisaran premi dari asuransi tradisional dengan tipe YRT (Yearly Renewable Term) dengan penambahan jumlah premi setiap tahunnya (lihat contoh tabel diatas), data ini kami olah dari perusahaan asuransi jiwa yang ada di Indonesia, dan memiliki produk asuransi jiwa tipe YRT. Produk ini sangat direkomendasikan untuk dilakukan secara konsisten hingga setidaknya anak telah memasuki kuliah di universitas.

Pembaca yang bijak, sekali lagi ingin kami sampaikan bahwa untuk mendapatkan hasil yang optimal contoh kasus diatas sebaiknya pilihlah produk asuransi yang tidak digabungkan dengan investasi atau dikenal dengan sebutan unit link karena jika tidak premi yang dibayarkan (dengan UP yang sama)akan lebih mahal. Kondisi ini tentu akan memicu peluang proteksi asuransi dengan UP yang besar secara berkesinambungan berpotensi gagal atau dalam istilah asuransi disebut dengan lapse.
 
Demikian pembaca setelah kita memutuskan besar UP yang paling cocok dengan kebutuhan maupun kemampuan kita, langkah berikut adalah lakukan investasi secara terpisah dengan asuransi jiwa sehingga secara jangka panjang pertumbuhan dana akan lebih baik dan pada akhirnya tujuan keuangan akan tercapai. Selamat melakukan perencanaan keuangan dengan cerdas, planning well living well, keputusan ada ditangan anda.

Taufik Gumulya, CFP® Perencana Keuangan pada TGRM Finan


invest!

detik Finance : Lakukan Investasi, Maka Anda Kaya
Kita semua mengetahui bahwa aset adalah suatu yang sangat berharga dan manusia merupakan aset yang paling sangat berharga karena merupakan anugrah dari Tuhan Sang Pencipta. Jika dipilah, maka ada bermacam macam aset di muka bumi ini, namun yang dibahas disini hanya terbatas pada aset yang berhubungan dengan perencanaan keuangan utamanya aset finansial saja.

Berbicara mengenai penambahan aset, alangkah bijak jika kita melakukan evaluasi terhadap kekayaan (aset) bersih yang kita miliki. Aset atau kekayaan bersih adalah selisih dari total kekayaan atau harta yang anda miliki dikurangi oleh seluruh utang yang ada.

Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
H (Harta) - U (Utang) = KB (Kekayaan Bersih)

Lalu apa yang dimaksud dengan kekayaan alias harta itu?, adalah segala sesuatu materi yang anda miliki dan memiliki nilai jual (secara ekonomis), misalkan:

1. Saldo pada Bank (tabungan, deposito & giro);
2. Nilai pasar atas aset investasi (obligasi, reksa dana & saham);
3. Nilai pasar perhiasan emas murni (logam mulia);
4. Nilai tunai asuransi jiwa;
5. Nilai pasar property anda (perhitungannya adalah harga realisasi penjualan property sekelas dan terdekat + nilai jual objek pajak dibagi dengan 2);
6. Nilai pasar kendaraan (mobil, motor);
7. Nilai pasar peralatan rumah tangga (peralatan dapur, elektronik, dll);
8. Nilai pasar perabotan rumah (furniture), nilai barang pribadi, dll.


Kemudian apa yang dimaksud dengan utang?, adalah seluruh sisa pinjaman (pokok dan bunga) yang anda miliki (ingat pinjaman bukan penyertaan modal investasi dari pihak lain kepada anda), misalkan:

1. Utang jangka pendek (maksimal 1 tahun);
2. Jangka menengah diatas 1 tahun hingga 5 tahun;
3. Utang jangka panjang diatas 5 tahun.


Pertanyaan berikut adalah bagaimana cara meningkatkan aset tersebut?, lakukanlah investasi, berikut adalah langkah-langkahnya:

1. Lakukan investasi dengan jumlah minimal 10% dari pendapatan anda;
2. Tentukan sasaran (target) investasi tersebut, misal untuk dana pendidikan anak saat masuk universitas atau untuk persiapan membeli rumah baru atau mungkin untuk berlibur dengan keluarga?, dll.;
3. Tentukan waktu yang tersedia, berdasarkan poin 2 didapat waktu yang tersedia, misal untuk dana pendidikan tersedia 10 tahun (bagi orang tua yang memiliki anak dengan usia 8 tahun), dana untuk membeli rumah direncanakan 5 tahun dari sekarang dan untuk dana berlibur dibutuhkan waktu (misalnya) 9 bulan dari sekarang;
4. Tentukan instrumen investasi anda berdasarkan waktu yang tersedia, bentuklah portfolio investasi pribadi anda, misal sebagai berikut:
a.Waktu tersedia kurang dari 1 tahun, Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) dengan kombinasi pada deposito;
b.Waktu tersedia antara 1 – 3 tahun, Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)dikombinasi dengan Reksa Dana Campuran (RDC);
c.Waktu tersedia antara 3 – 5 tahun, Reksa Dana Campuran (RDC) dengan kombinasi Reksa Dana Saham (RDS) serta jika memungkinkan (tergantung besar aset tunai anda) dapat ditambah dengan sedikit dikombinasi pada pembelian dan penjualan saham (trading) di bursa efek;
d.Diatas 5 tahun, Reksa Dana Saham (RDS) sebagian besar, dengan kombinasi investasi pada trading saham (sebagian kecil);
e.Catatan tambahan untuk poin ‘c’ dan ‘d’ sangat dianjurkan hanya bagi mereka yang telah memiliki aset tunai bersifat likuid berupa dana darurat yang telah mencapai 6 hingga 12 kali rata-rata pengeluaran per bulannya;

5. Lakukan proteksi atas aset finansial anda dengan membeli asuransi jiwa melalui produk tradisional dengan jenis YRT (Yearly Renewable Term) yakni produk yang hanya memberikan uang pertanggungan tanpa ada unsur investasi ataupun tabungan. Mengapa jenis ini?, karena memiliki uang pertanggungan yang besar dengan premi yang minimal, sedangkan asuransi yang dikombinasikan dengan investasi (unit link) terbukti biaya di 5 tahun pertama adalah sangat mahal.

6.Lakukan monitoring terhadap butir 4 diatas, lihat perkembangan dana investasi versus target minimal yang harus tercapai.

Setelah langkah untuk meningkatkan aset melalui investasi dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah kembali melakukan evaluasi secara berkala terhadap kekayaan bersih anda, berikut adalah formulasi Rasio Ideal Kekayaan Bersih (minimal , secara matematis:
Us (Usia) X PT (Pendapatan Tahunan) / 10 >= 3,5 PT (Pedapatan Tahunan)
Jadi setelah anda melakukan investasi silahkan evaluasi (berkala tahunan), apakah:

* KB (Kekayaan Bersih) anda sudah berada >= 3,5 PT atau
* KB (Kekayaan Bersih) anda sudah berada < 3,5 PT


Untuk jelasnya lihat tabel contoh dibawah ini, dua orang pekerja dengan jabatan yang berbeda:
Uraian Direktur Karyawan
Usia (tahun) 35 35
Pendapatan/Bulan (Rata-rata) Rp 35.000.000 Rp 2.500.000
Pendapatan/Tahun Rp 420.000.000 Rp 30.000.000
Kekayaan Bersih Rp 850.000.000 Rp 125.000.000

Penjelasan /Analisa :
Total kekayaan bersih sang Direktur Rp 850 juta, kekayaan bersih sang Karyawan hanya sebesar Rp 125 juta, namun ternyata sang Karyawan lebih kaya dari sang Direktur, ini disebabkan karena:
Rasio Kekayaan Bersih Direktur Karyawan
Rasio Ideal Kekayaan Bersih 2,02 4,17
Rasio Ideal Kekayaan Bersih (minimal) 3,50 3,50

Jadi ternyata sang Direktur tidak lebih kaya dari sang Karyawan karena Rasio Kekayaan Bersih Direktur hanya 2,02 (mungkin memiliki utang yang besar disertai dengan gaya hidup yang mewah), sedangkan sang Karyawan memiliki Rasio Kekayaan Bersih yang lebih baik dari standar minimum yaitu sebesar 4,17. Jangan menyalahkan diri anda jika rasio belum tercapai, ini adalah merupakan langkah awal untuk melakukan perencanaan keuangan, usahakan rasio minimal sebesar 3,50 dapat tercapai sejalan dengan perkembangan waktu.

Jika ingin menjadi kaya secara finansial ada pesan yang pertama yaitu "Lakukanlah Investasi maka Anda Menjadi Kaya", jangan berpikir terbalik "Lakukan Investasi Jika Telah Kaya!'. Pesan sederhana ini silahkan dicoba karena sejauh yang kami ketahui orang terkaya didunia melakukan pesan yang pertama, selamat mencoba.

Taufik Gumulya, CFP® , Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services


Sunday, November 07, 2010

striking journalist

Guardian 6th November:

BBC strike: a dozen journalists, a homemade placard and a former Play School presenter on the picket line

Newsnight's Paul Mason admits: 'It's not the miners' strike'

Maev Kennedy guardian.co.uk, Friday 5 November 2010 16.06 GMT


Paul Mason, Newsnight's economics editor, on the BBC picket line. Photograph: Oli Scarff/Getty Images

By 9am when the BBC's flagship radio news programme, Today, should have been signing off in traditional style by crashing the pips, the ragged line of about a dozen National Union of Journalists pickets was bagging support from passing traffic.

There were flashing headlamps from a No 22 London bus; a tooted horn from a white catering lorry, and one small grey van which, after a chat with the striking journalists, turned back from the gates - to the pickets' surprise.

Meanwhile hundreds of BBC workers had streamed past them into the Wood Lane Television Centre, the heart of the corporation's radio and television news operation, a few looking slightly awkward, most barely registering the pickets. "I'm not in your union, but I support you guys," one man said - but went in anyway.

Helen Boaden, the director of news, smiled and said hello as she walked through, too briskly for the pickets to get out a "BBC pensions robbery" leaflet to offer her. "She's presumably in there now doing all the news programmes by herself," said Ian Pollock, chair of the NUJ London branch at the BBC. "She was very pleasant - but she's still scabbing."

They tried harder to engage with the soon-to-be-redundant deputy director Mark Byford, but he strode through. Peter Horrocks, director of the World Service, paused for long enough to assure them their cause was hopeless.

Paul Mason, Newsnight's economics editor, joined the picket line in battered jeans and pinstripe jacket, insisting: "What we're on strike for is the right to take a pay cut so we can pay more into our own pensions." It was not an issue arousing tremendous public sympathy, he agreed as passersby, clocking that his was the most famous face on offer, hurried on by. "This is not the miners' strike," he said.

The solitary homemade placard, a beautifully lettered "Lose 1/3 of my pension? Of course I'm on strike", on drawing paper nicked from his children, was carried by Ian Jolly, who works for the BBC news website. He spent his very first day as a professional journalist on strike, joining the picket outside the Eastern Daily Press in Norwich in 1978. "This [the BBC strike] has been a very hard sell," he said today. "A lot of people think, 'you're in work, what are you moaning about?' "

A group of pensioners arrived on a coach, a University of the Third Age group from St Albans booked in months ago for a studio tour. "If I was working for the BBC I'd be out on this picket line too," Peter Dodd said staunchly, after a career as an engineer and technical officer in which he was made redundant five times. "The whole state of British employment today is very worrying."

Two slightly bemused Dutch tourists, Lena and Marcel Dam, arrived to join the tour. They got to London on Tuesday, in time for the tube strike. "For us it is very interesting to find Britain like this," Marcel said, guffawing.

Chris Tranchell cheerfully introduced himself as a flying picket, a one-man delegation from Hammersmith and Fulham trades council where he represents the actors' union, Equity. But it turned out he knew the Wood Lane building very well indeed: from 1976 to 1984 he was a regular presenter on Play School. His bosses may already have had his number, since the day he whistled, while narrating a Christmas tree story, the air to O Tannenbaum - or The Red Flag, as it is better known at Labour conferences. He sealed his fate during the miners' strike, when he appeared on the front page of a trade union journal, collecting toys for strikers' children outside Hamley's in Regent Street. He was invited to an ominous lunch with his producer. "The word miner was never mentioned. She told me, 'Chris, your face is no longer coming at us through the camera,' and that was that.

"The cuts are happening everywhere you look. Solidarity among workers is all we've got".

_________________
The salmon-falls, the mackerel-crowded seas
Back to top Go down

Eddie
Head Librarian


Gender: Male Number of posts: 8517
Registration date: 2008-07-30

PostSubject: Re: BBC strike by members of the National Union of Journalists   Yesterday at 6:32 pm

Did the BBC strike spoil your morning?

Nature programmes instead of Radio 4's Today, stand-in presenters on Radio 5 Live ... it was all change on BBC stations



Did you miss John Humphrys' bellowing tones on Radio 4's Today programme? Photograph: BBC

Friday, 6.30am, does not tend to be my favourite point of the week. Oddly it was rather improved this morning by Radio 4's decision to repeat Off the Page: Living Cheap, in lieu of the second half hour of the Today Show. What I couldn't work out was whether broadcasting a programme that came with the blurb "Everyone tells us we are living in tough times. Can we re-learn how to live on the cheap?" smacked of BBC management's evil genius, or fabulous striking journalist mischief. Not only was there a discussion about whether frugality can be fun, but the panel featured a 69-year-old who lives in an almshouse. A warning or a recommendation? That intrigue alone was enough to provide a little fillip to a grey November morning. (If you missed it, you can listen again here. Well worth it .)

Radio 4 was, in fact, the station hardest hit by the 48-hour NUJ strike, with the Today programme completely off air and documentaries about Lord Kitchener and Winston Churchill – disorientating if you turned on halfway through and had to figure out who on earth was being talked about – jostling alongside a couple of instalments of The Estuary. As my colleague Maev Kennedy noted: "Peaceful twittering of wading birds instead of anxious squawking of politicians on R4." The effect was restful, but not particularly useful in terms of delivering news, unless of course you are mad keen on wading birds, although there were 15-minute bulletins on the hour.

Radio 5 Live managed to put out a breakfast show that was closer in format to usual – ie it didn't involve the sounds of birds squawking and some people were interviewed – but actually seemed less of a success because of that. One painful interview about Diwali included the memorable question: "Becoming very popular now isn't it?"

The stand-in presenter, seemed surprisingly reluctant to tell us who he was, so his identity remains something of a mystery to me, although I'm told it was Ian Payne. All I can definitely tell you is that he appeared to have the same voice as the person doing the sport and the travel. The only moments of contrast came when people, often footballers, were interviewed at great length. And then the contrast tended to be a monotone mumble. One interview with Ashley Cole seemed to go on for about half a lifetime.

The same problem hit BBC Breakfast, which was not replaced by repeats, but was reduced to a kind of pared-down BBC News channel with one anchor and a set of packaged stories that sometimes benefited from being given an extra long slot to fill... and sometimes really didn't. One report that seemed essentially to involve a journalist having a go on a Formula One simulator neither particularly informed nor interested me. But then the same could be said of Daybreak in its entirety. And that's on every morning.

Perhaps it was just because I had my eye on different news outlets all at once, but the recycling of guests and stories between BBC Breakfast and Radio 5 Live was also pretty marked in places.

So what did you make of the strike output? Were you lost without the Today programme? I honestly still have no idea what is actually happening in the world because it hasn't been hammered into my mind by a shouty John Humphrys. Were you too bemused by the many promos on BBC Breakfast for BBC news services you presumably can't access at the moment? And did you feel a bit sorry for Victoria Derbyshire who is presumably on strike, but has had her show covered by repeats of her earlier interviews, which rather dilutes the effect?

Your thoughts please – particularly if you have local updates.
Posted by Vicky Frost Friday 5 November 2010 12.16 GMT guardian.co.uk



Saturday, November 06, 2010

Secret of youth - man looks years younger after flight

Canadian officials have detained a young Asian man who apparently
boarded a flight from Hong Kong to Vancouver disguised as an elderly
white male.

Canadian Border Services said the man wore a silicone mask covering
his head and neck in what they called an "unbelievable case of
concealment".

Suspicions were raised when an apparently elderly passenger was
noticed with young-looking hands.

Later he emerged from a washroom looking like a man in his twenties.

An internal intelligence alert from the Canadian Border Services
Agency (CBSA), obtained by AP news agency, shows before-and-after
photos.

The passenger was seen at the start of the flight as an "elderly
Caucasian male who appeared to have young-looking hands," the CBSA
bulletin said.
Disguise kit

"The subject attended the washroom and emerged an Asian looking male
that appeared to be in his early twenties."

The document said the man had a bag with a "disguise kit which
consisted of a silicone type head and neck mask of an elderly
Caucasian male, a brown leather cap, glasses and a thin brown
cardigan."

"We can confirm that officials from the CBSA met a passenger arriving
off AC018 Hong Kong to Vancouver on October 29 and the matter is still
under investigation," Air Canada spokesperson Angela Mah told AFP news
agency.

The man is reported to be seeking refugee status in Canada.