Instagram

Translate

Tuesday, November 02, 2010

Julian Assange

I just got this from a mailing list that I subscribe ...Assange is one
of a few people that impress me...I wish I can meet him..one day...who
knows..or he might read this and send me an email...:)


(ANTARA/REUTER/Andrew Winning)

Tingkah lakunya mirip buronan. Di sebuah restoran masakan Ethiopia di
distrik kumuh Paddington, London, Inggris, ia menemui wartawan New
York Times. Suaranya dipelankan, mungkin menurut dia bisa berguna
untuk menghindari "intel-intel".

Ia juga minta para pendukung setianya untuk menggunakan telepon
selular bersandi dengan kode yang rumit. Harganya tak murah. Assange
sendiri mengganti ponsel sesering dia mengganti baju.

Ia selalu menginap di hotel dengan nama palsu, mewarnai rambutnya,
tidur di sofa dan lantai, serta selalu berbelanja menggunakan uang
kontan, yang sering ia pinjam dari para sahabatnya, untuk menghindari
pelacakan kartu kredit.

"Tetap di jalur ini dan tidak berkompromi membawa saya ke dalam
ketegangan yang luar biasa," kata Assange dalam makan siang, Sabtu
pekan lalu.

Ia mengenakan sebuah kupluk wol 'sporty' dan membawa serta sekelompok
pengikut muda termasuk seorang pembuat film yang akan merekam jika ada
kejadian tak terduga.

Dalam petualangannya menuju kemasyuran, Assange sang pendiri laman
WikiLeaks, menilai beberapa pekan yang akan datang sebagai masa paling
berbahaya dalam hidupnya.

Ia baru saja mengumbar 391.832 dokumen rahasia tentang perang Irak,
bocoran yang paling memalukan tentang perang. Sabtu kemarin ia
mengadakan konfrensi pers di London dan mengatakan bahwa bocorannya
itu 'menjadi catatan yang paling komprehensif dan rinci tentang
perang'.

Kira-kira 12 bulan yang lalu ia menayangkan sejumlah 77.000 dokumen
rahasia milik Pentagon tentang perang Afghanistan di halaman web
WikiLeaks.

Banyak yang telah berubah sejak 2006, ketika Assange mulai
mengembangkan WikiLeaks. Pria Australia berusia 39 tahun itu sudah
bertahun-tahun menjadi peretas komputer. Teman-temannya bilang dia
"sedikit lagi masuk kategori genius".

Ia telah memberi definisi baru pada 'whistle blowing' dengan cara
mengumpulkan bahan-bahan rahasia dan dengan enteng menyebarkannya
kepada seluruh dunia.

Bukan hanya pemerintah saja yang mengecamnya. Beberapa rekan
mengacuhkan Assange karena angkuh, tidak berpendirian, dan
menyesatkan, serta tak peduli dengan kekhawatiran bahwa rahasia yang
ia umbar bisa mengancam nyawa orang lain.

Beberapa rekannya di WikiLeaks mengatakan ia membuat keputusan sepihak
karena menyiarkan rahasia perang Afghanistan tanpa menghilangkan
nama-nama dari sumber-sumber intelejen Afghanistan yang digunakan
pasukan NATO.

"Kami sangat-amat kecewa, ditambah lagi perkataannya setelah rahasia
itu beredar,"kata Birgitta Jonsdottir, anggota inti dari WikiLeaks
yang juga anggota parlemen Islandia.

"Seharusnya ia bisa fokus pada hal-hal penting saja," sambung Jonsdottir.

Assange juga tengah diperiksa terkait tuduhan perkosaan dan pelecehan
seksual terhadap dua perempuan Swedia. Ia telah menyangkal tuduhan itu
dan mengatakan bahwa hubungannya dengan kedua perempuan itu
berdasarkan suka sama suka.

Tetapi para jaksa di Swedia belum secara resmi menghentikan atau
meneruskan penyelidikan kasus itu.

Assange mengatakan skandal itu sebagai 'kampanye-kampanye kotor' yang
semakin menambah tekanan atas hidupnya yang penuh selubung.

"Kadang saya sampai pada titik baik di penjara saja karena bisa
menghabiskan satu hari untuk membaca buku dengan tenang," ujar Assange
sambil menghabiskan santapannya dalam makan siang London itu.

Mengumbar Rahasia
Assange datang dari masa kecil yang tidak jelas di Australia karena ,
seperti yang diakuinya, ia mengalami ketidakcocokan sosial dan nyaris
masuk penjara setelah terbukti bersalah dalam 25 kasus peretasan
komputer pada 1995.

Sejarah selalu ditandai dengan mata-mata, pembelot, dan mereka yang
membongkar rahasia paling sakral dari generasi mereka. Assange telah
menjadi salah satu dari mereka di masa Internet ini, meski tanpa
perhitungan yang matang atas konsekuensi yang akan diterimanya dan
pemilik rahasia-rahasia dunia itu.

"Sudah 40 tahun saya menunggu orang yang membongkar
informasi-informasi dalam skala yang bisa membuat perubahan," kata
Daniel Ellsberg, yang pernah membeberkan 1.000 halaman lembaran studi
rahasia tentang Perang Vietnam pada 1971. Dokumen itu dikenal dengan
nama 'Pentagon Paper'.

Ellsberg mengatakan ia melihat semangat yang sama dalam diri Assange
dengan Prajurit Satu Bradley Manning (22) mantan anggota intelejen AS
yang kini ditahan di Quantico, Virginia, AS, yang dituduh membocorkan
dokumen perang Irak dan Afghanistan.

"Mereka berani dipenjara seumur hidup atau hukum mati untuk membongkar
informasi itu," ujar Ellsberg.

Belum jelasnya langkah yang akan diambil oleh pemerintah AS membuat
Assange gundah. Pentagon dan departemen kehakiman AS mengatakan akan
mengambil tindakan berdasarkan Undang-Undang Spionase tahun 1917.

Mereka telah mendesak Assange untuk mengembalikan semua dokumen
pemerintah yang berada dalam penguasaanya, menekankan Assange untuk
tidak menyiarkan setiap dokumen dokumen baru, dan agar tidak 'meminta'
bahan-bahan (rahasia) AS lagi.

Assange menanggapi hal hal itu dengan melarikan diri, meski belum
menemukan satu tempat pun untuk berlindung. Ketika kontroversi tentang
dokumen perang Afghanistan menghangat ia terbang ke Swedia untuk
meminta izin menetap dan mencari perlindungan. Permintaannya disambut
hangat oleh negara itu.

"Mereka menyebut saya 'James Bond' dalam jurnalisme dan kemudian
membuat saya digemari banyak orang meski beberapa dari mereka membuat
saya terlibat dalam masalah," kenang Assange dengan kecut.

Hubungannya dengan beberapa perempuan Swedia membuatnya ditahan karena
sangkaan pemerkosaan dan pelecehan seksual.

Karin Rosander, juru bicara kejaksaan di Swedia, pekan lalu mengatakan
para polisi erus menyelidiki kasus itu.

September silam, Assange meninggalkan Stockholm, Swedia, menuju
Berlin, Jerman. Sebuah tas yang ia bawa hilang padahal penerbangan itu
sangat sepi hampir tanpa penumpang. Isi tas yang hilang adalah tiga
laptop dan sampai kini tidak ditemukan. Assange memperkirakan
barang-barangnya itu telah disita.

Dari Jerman ia berangkat ke London meski khawatir akan ditahan ketika
tiba di bandara. Menurut hukum Inggris, paspor Australia-nya
memberikan dia hak untuk menetap di negara itu selama enam bulan.

Sementara Islandia di mata Assange telah kehilangan daya tariknya.
Negara itu sama seperti Inggris, yang terlalu mudah patuh pada
Washington. Tanah airnya Australia pun setali tiga uang;
mengisyaratkan akan bekerja sama dengan AS jika penuntutan atas
Assange mulai dilakukan.

"Anda telah bermain di luar aturan dan Anda akan ditangani di luar
aturan pula," kata seorang pejabat senior Australia kepadanya suatu
ketika.

Ia pun menerima ancaman dari dalam lingkarannya sendiri. Setelah
skandal di Swedia, ketegangan dalam tubuh WikiLeaks mencapai
puncaknya. Beberapa rekan terdekat Assange mulai berpaling secara
terbuka.

Harian The New York Times telah berbicara dengan belasan orang yang
pernah bekerja dan mendukung Assange di Islandia, Jerman, Swedia,
Inggris, dan AS.

Dari pembicaraan itu terungkap gambaran tentang sang pendiri WikiLeaks
yang inovatif dan karismatis tetapi sebagai seorang yang semakin
tersohor bak selebritis ia pun semakin mirip seperti diktator, yang
eksentrik, dan punya gaya yang beubah-ubah.

Guncangan di Dalam
Sejak menjalani hidup sebagai buronan, Assange pun mulai menjalankan
roda kepemimpinannya melalui internet. Saat memerintah dari jarak jauh
pun konon lagaknya tetap angkuh.

Dalam sebuah perbincangan 'online' dengan salah satu sukarelawan
mereka bulan lalu, Assange pernah sesumbar bahwa WikiLeaks akan hancur
tanpanya.

"Kita sedang berada dalam situasi bersatu atau mati untuk beberapa
bulan," ketik Assange dalam perbincangan yang salinannya dipegang oleh
The Times.

Ketika Herbert Snorrason, seorang aktivis politik asal Islandia
berusia 25 tahun mempertanyakan penilaian Assange dalam beberapa isu
yang sudah lewat, Assange kelihatan geram.

"Saya tidak suka nada bicara Anda. Jika terus seperti itu, Anda akan
dikeluarkan," tukasnya dalam perbincangan di dunia maya dengan
Snorrason. Assange menganggap dirinya 'tidak tergantikan'.

"Saya adalah hati dan jiwa dari organisasi ini, pendiri, pemikir, juru
bicara, penyusun aturan, organisator, pengatur dana, dan segalanya,"
imbuhnya kepada Snorrason. "Jika kamu tidak suka saya, kamu harus
keluar," lanjutnya sembari memaki.

Dalam sebuah wawancara terkait perbincangan 'online' dengan Snorrason
itu, ia hanya berkomentar ringan.

"Ia sedang error," seloroh Assange. Ia tidak begitu peduli dengan
mereka yang mengkritisinya. "Mereka tidak penting," tukasnya.

Ada belasan yang baru-baru ini keluar dari organisasi itu, kata Smari
McCarthy, sukarelawan asal Islandia. Musim panas silam Assange
menghukum Daniel Domscheit-Berg, seorang Jerman yang sebelumnya
bertugas sebagai juru bicara WikiLeaks dengan menggunakan nama samaran
Daniel Schmit, karena 'prilaku yang buruk'. Menurut McCarthy masih
banyak yang akan menyusul keluar.

Assange menyangkal banyak relawannya yang berhenti, kecuali
Domscheit-Berg. Organisasi yang menurut Assange itu mempunyai 40
tenaga inti dan hampir 800 sukarelawan diyakini akan lumpuh jika lebih
banyak lagi anggotanya yang keluar.

Para pekerja itu bertugas untuk merawat jaringan server dan untuk
mengamankan sistem mereka dari jenis serangan yang juga digunakan oleh
WikiLeaks untuk mendapatkan dokumen rahasianya.

Mereka yang membelot dari Assange juga menuduh dia berniat membalas
dendam kepada AS. Di London Assange mengatakan AS adalah masyarakat
militer yang terus berkembang dan karenanya menjadi ancaman terhadap
demokrasi.

"Kita telah diserang oleh AS jadi kini kita dipaksa untuk
mempertahankan diri," ia berujar lebih lanjut.

Di lain pihak, Assange tetap dapat pujian dari para penentangnya.
Sistem komputer yang rumit dan arsitektur pendanaan yang digunakan
WikiLeaks untuk membentengi organisasi itu dari musuh-musuhnya
merupakan hasil kerja Assange.

"Dia sangat unik dan luar biasa berguna," aku Jonsdottir, perempuan
anggota parlemen Islandia.

Gelombang Keraguan
Sebelum menayangkan dokumen perang Afghanistan dan Irak, WikiLeaks
terlibat dalam usaha-usaha menggoyahkan pemerintahan berbagai negara.

Para pendukung organisasi itu bergembira ketika mereka menayangkan
dokumen-dokumen terkait penjara Guantanamo Bay, isi email Yahoo mantan
calon Wakil Presiden AS, Sarah Palin, laporan tentang pengadilan
'extrajudicial' kasus pembunuhan di Kenya dan Timor Leste, daftar
anggota Partai Nasional Inggris yang berideologi neo-Nazi, dan rekaman
pembantaian terhadap 12 warga Irak, termasuk dua wartawan Reuters,
oleh sebuah helikopter Apache di Baghdad, Irak, pada 2007.

Tetapi kini WikiLeaks dihadapkan pada keragu-raguan yang baru. Lembaga
Amnesty International dan kelompok 'Reporters Without Borders' kini
bergabung dengan Pentagon untuk mengecam organisasi yang menggolongkan
diri sebagai bagian dari jurnalisme itu.

Menurut mereka WikiLeaks membahayakan jiwa orang lain dengan
menyiarkan daftar orang-orang Afghanistan yang bekerja untuk AS atau
bertindak sebagai informan.

Seorang juru bicara Taliban yang menggunakan nama samaran Zabiullah
Mujahid, misalnya, dalam sebuah wawancara telepon mengatakan Taliban
telah membentuk sebuah komite yang terdiri dari sembilan orang untuk
menemukan orang-orang yang bertindak sebagai mata-mata itu.

Menurutnya Taliban telah membuat sebuah daftar yang berisi 1800 nama
orang Afghanistan setelah membandingkan dengan nama-nama yang
disediakan oleh WikiLeaks.

"Setelah proses (pencarian) itu selesai, pengadilan Taliban akan
memutuskan nasib orang-orang itu," kata juru sang juru bicara Taliban.

Menghadapi tudingan itu Assange mengatakan bahwa keputusannya
menyebarkan informasi itu mendatangkan 'manfaat yang besar sekaligus
pencegahan akan bahaya yang mungkin disebabkan tersiarnya informasi
itu'.

"Tidak ada pilihan yang mudah bagi organisasi ini," tangkis Assange.

Namun, keepercayaan di antara para pengikutnya terus memudar. Suasana
hatinya tertangkap dengan jelas dalam sebuah obrolan 'online' pada 20
September silam dengan seorang tokoh senior dari WikiLeaks.

Dalam pembicaraan yang dimiliki salinannya oleh The Times itu Assange
menggambarkan mereka yang membelot sebagai 'sekelompok konfederasi
orang tolol' dan kepada lawan bicaranya ia bertanya dengan kasar,
"Apakah saya sedang berhadapan dengan seorang yang bego?"

Di London Assange marah ketika ditanyai tentang keretakan itu. Ia juga
menjawab ketus ketika ditanyai tentang keuangan WikiLeaks yang semakin
memburuk, nasib prajurit Manning, dan kurangnya akuntabilitas
WikiLeaks. Ia menyebut pertanyaan macam itu 'tolol', 'murahan', dan
mengingatkan akan pertanyaan dari anak TK.

Assange, ketika di London, berbicara tentang Manning dan
menggambarkannya sebagai 'tahanan politik' karena harus dipenjara
selama 52 tahun tanpa adanya pembuktian bahwa ia adalah sumber
kebocoran rahasia-rahasia perang itu.

"Kami punya kewajiban untuk mendampingi Manning dan orang lain yang
sedang menghadapi konsekuensi legal dan konsekuensi lainnya,' ujar
Assange.

Tidak hanya itu bos WikiLeaks itu bahkan angkat kaki di tengah
wawancara dengan Atika Shubert dari CNN ketika mulai ditanyai tentang
perpecahan dalam tubuh WikiLeaks dan kepribadian Assange yang
mempengaruhi kinerja organisasi itu.

"Saya akan keluar jika anda terus mencemari wawancara sangat serius
ini dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan pribadi saya," kata
Assange seperti yang dikutip Daily Mail.

Shubert memang menanyainya tentang hubungannya kurang harmonis dengan
para relawannya dan skandal seksual yang membawa-bawa namanya di
Swedia.

"Ini benar-benar menjijikkan, Atika. Saya akan berhenti jika Anda
mencemari pengungkapan kematian 104.000 orang dengan menyerang saya,"
tukasnya sebelum akhirnya mencopot mikrofon dan beranjak pergi dari
tempat wawancara.

Nasib Assange sendiri tampaknya tak akan jauh berbeda dari Manning.
Senin silam Dewan Migrasi Swedia telah menolak permintaan izin
menetapnya di negara itu. Sementara visa Inggris-nya akan habis tahun
depan.

Sesaat sebelum ditelan bayang-bayang restoran di distrik kumuh London
itu ia masih menolak mengatakan ke mana ia akan pergi.

Sekali lagi, laki-laki yang telah membuat institusi-istitusi terkuat
ketar-ketir itu, melanjutkan petualangannya. (*)

Sumber: The New York Times dan Daily Mail

crappy internet banking system (Hope "that bank" didn't do it on purpose)

I had a bad day. Well, it was really a crappy and I lamed Panin Net Banking for that bad feeling.....Well,   I don't want to make the story long )so I will just go to the point. Here we are...
Today I did an exchange from AUD to IDR using net banking on my netbook. I did few times and kept failing, so I just called the office to do over-phone transaction. But, because of this, I loss some money! It was annoying...when I transferred AUD to IDR using Panin net banking, the transaction didin't go smoothly. The net banking was just bad. It sucked, really! It was not because of connection, but the Panin's system itself. Connection was so excellent!
Here are some records o my failed transaction this afternoon.
Terima kasih Anda telah menggunakan Internet Banking Bank Panin.Berikut ini adalah informasi transaksi yang telah Anda lakukan.          Tanggal : 02/11/2010        Jam : 14:35:46 WIB        Nomor Referensi : 11XXXXXXXX        Transaksi : TRANSFER ANTAR REKENING BANK PANIN        Ke Rekening : XXXXXXXXX        Jumlah : Rp. xxxxx        Berita :         Status : GAGAL
Tanggal : 02/11/2010
Jam : 14:38:46 WIB
Nomor Referensi : XXXX

Transaksi : TRANSFER ANTAR REKENING BANK PANIN
Ke Rekening :XXXXXXX
Jumlah : Rp. XXXXX

Berita :
Status : GAGAL

Tanggal : 02/11/2010
Jam : 14:38:46 WIB
Nomor Referensi : xxxxxxx

Transaksi : TRANSFER ANTAR REKENING BANK PANIN
Ke Rekening : xxxxxx
Jumlah : Rp. XXXXXX

Berita :
Status : GAGAL


Look, you see, all failed. So, the net banking of Panin is really not reliable.  Consequently I lose some bucks because of the error system of Panin. When I logged in, the exchange rate  was 8911,25, then quickly made a transfer for 5037. I followed all the instruction and used the key word in the "token". It worked, but when it went to the final stage of the transfer, it just failed, which I hate. Then I tried again few times, and the same things  happened. Annoying. uckl I grabbed a phone and called the Panin branch and spoke to the customer service. She said that the system was down due to the fact that many people do the transaction in the same time. But, hey, you should consider this before u establish the net banking. because of this terrible things that Panin has done, I lost money. I was supposed to get IDR 44,89, but the failed system made me earn only 44,78 (because the rate was only 8895,25)..It changed so fast.....it means I lost around IDR 110 thousands. So, please fix your system  and never make your customers feel down!! 


CCY
BELI JUAL
AUD 8.911,05  8.929,55 

Monday, November 01, 2010

Don't join any insurance companies until u understand their policies!

I have paid for IDR 9.750.000 but my money value is just IDR 6,6 m. I just don't understand how this prudential insurance works. Thje agent never explain clearly and he said that he also doesn't understand the calculation of how much my money distributed for the admin fee and other fees. He said, he is given a software so that software has a formula. He just used it. This company prudential.co.id sucks. I am as customer feel being cheated. Hey, prudential indonesia, can u explain me how u ripped off the money I have paid for the last 13 months? Sent from my BlackBerry®powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Is westernisation modernity? -Lubna Rama

We use the technology from the west yet resist progressive ideas that can bring about a positive change and steer us towards progress. We could even retain our values and our culture and yet be modern. The first step towards that is the 'thought'Westernisation and modernity are often confused. If we delve deep into history, they do have a strong connection. Here I would discuss both - the mechanisation of human life and the thought behind mechanisation or modernity, and whether it is possible to be modern without being westernised. The Industrial Revolution (towards the end of the 18th century) changed the face of the world. It not only brought about a drastic change in the way people lived - automobiles, trains, planes, telegraph and telecommunication - it stabilised the world economy (read the west). Whereas before it took weeks, months and sometimes years to travel from one place, city or country to another, it was now a matter of hours.Is it possible to be modern and not be westernised? What does 'being westernised' mean? Generally, whoever wears western clothes, listens to western pop music, speaks in a certain accent, prefers burgers to seekh kebabs is considered to be 'westernised' in Pakistan. Teenagers have a tough time dealing with conservative parents. Liberal parents have a tough time dealing with the largely conservative society. Is westernisation bad?Actually when we talk of copying the west and going wayward, this is not hundred percent untrue. What we take from the west are superficial values, which certainly does not mean that the west is superficial. Indeed, clothes and food do not come in the parameters of modernity. Trends tend to branch out from something more solid. The solid basis of modernity did originate from the west. The Industrial Revolution began in Europe. What is important, in my view, is the thought behind modernity. Philosophically speaking, planes, trains and cars, for example, are not really planes, trains and cars, but 'ideas'. Someone in the west thought one day that life is difficult: there are no easy means of communication, no proper cures to dangerous diseases, no means of social and economic progress. Hence the ideas emerged and research began, which eventually resulted in the Industrial Revolution.Indeed, Pakistan over the years has had major cosmetic changes. The roads and bridges are as modern as anywhere in the developed countries, the shopping malls have mushroomed in all upscale town centres, the Kentucky colonel and Mr Mc Donald peep out from every nook and corner, all banks and private companies are computerised; sadly all this is superficial and limited to rich parts of the cities. This is where confusion creeps in, for this is not modernity. If we truly want to be modern, we should be more open to new ideas, no matter where they come from. We use the technology from the west yet resist progressive ideas that can bring about a positive change and steer us towards progress. We could even retain our values and our culture and yet be modern. The first step towards that is the 'thought'. A person can be clad in the most expensive French suit, drive a German car, smoke a Cuban cigar, globetrot on a regular basis, but if the mind is rusty, narrow and bigoted, then such a person cannot be called modern. Pakistan's story is similar to such a person.The only way we could retain our own 'identity' and yet be modern is through thought. Modern thought to me means thinking out of the box: look forward rather than backwards, peel off the garb of religiosity that creates nothing but resentment, welcome scientific advancements, ask questions. Timid acceptance of primitive ways of thinking (thinking that resists progress in the worldly sense) hinders progress.Democracy, for example, is a western concept. It has worked successfully in developed countries. Why is democracy not working in Pakistan? Is it the feudal system, the military, or the establishment that create hurdles in the continuation of the democratic process here? Is it possible that great minds get together and create an indigenous political system here? Democracy flourishes when the masses are literate. It is possible to create a system that is viable in our situation: democracy can wait till we are all literate. Modernity means moulding things according to our cultural, social and religious values. Prolonged military rule has taken us hundreds of years back. There must be a better solution when politicians bungle.The dichotomy in the way man thinks is universal. The US, for example, is the champion of human rights, justice and equality. Their scientists are working round the clock to find cures for all kinds of strange diseases, space research has reached new heights, and technology has made life far too comfortable. But is the same country not the largest manufacturer of arms and ammunition? It has also waged wars on the two most wretched countries in the world. The most arduous task in today's world is to create balance. To strive towards that is also modernity.It sounds almost like a cliché but Pakistan's tragedy is its political instability. While the world was moving forward at a great pace, Pakistan was rapidly falling deeper and deeper into an abyss of primitive mindsets. Modernity was confused with 'westernisation', and all modern thinking was termed either too westernised or anti-Islam. Sadly, Ziaul Haq used the card of Islam to prolong his ruthless rule, but he succeeded in creating elements that not only resisted modern thought, they were a danger to the entire world. Is religion that is being practiced and propagated by such elements compatible with modernity?One often hears of 'modern warfare', 'the new age of terrorism', 'modern battles and war strategies'. Modern here probably means the present times, but certainly not modernity. We need to understand and differentiate between the superficial aspects of westernisation and the truly modern aspects of western culture. If they could change the world a couple of centuries ago, so can we. By finely kneading western virtues with eastern values, we may perhaps be on our way to modernity.
Sent from my BlackBerry®powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Dilma Rousseff is elected to succeed Luiz Inacio Lula da Silva, becoming Brazil's first female president.

Sent from my BlackBerry®powered by Sinyal Kuat INDOSAT